#ekonomi#syariah#beritanasional

Transformasi Digital Percepat Ekonomi Syariah

( kata)
Transformasi Digital Percepat Ekonomi Syariah
Foto : Dok Lampost.co

Jakarta (Lampost.co) -- Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa teknologi digital dapat mempercepat ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia maupun dunia. Ia menginginkan transformasi teknologi bisa melayani masyarakat dalam hal ekonomi dan keuangan syariah untuk mencapai kesejahteraan umat.

Perry mencontohkan, transformasi digital dapat mempercepat pendanaan ekonomi Islam dari desa kecilnya di Surakarta sampai ke Abuja di Nigeria.

"Cukup dengan klik di ponsel. Dan ini transformasi yang coba kita dukung untuk ekonomi dan keuangan syariah seperti disampaikan dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ," kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat pembukaan ISEF 2019 di Jakarta, kemarin.

Digitalisasi ekonomi dan keuangan syariah itu tidak lepas dari besarnya pasar di Indonesia. Data yang dikemukakan BI dalam rangkaian ISEF menunjukkan, dari total populasi Indonesia yang sekitar 268 juta jiwa penduduk, sebanyak 56% di antaranya atau 150 juta orang merupakan pengguna internet aktif.

Dari 150 juta orang tersebut, sebanyak 91% menggunakan ponsel/telepon gawai dan lebih dari 10% sudah memanfaatkannya untuk melakukan pembelian daring secara rutin.

Nilai ekonomi digital Indonesia pada akhir 2019 juga diprediksi akan mencapai US$40 miliar, atau sekitar Rp560 triliun, kemudian pada 2025 akan naik menjadi US$100 miliar, atau Rp1.400 triliun.

Untuk mencapai transformasi di bidang ekonomi dan keuangan syariah tersebut, Perry merekomendasikan beberapa hal.

Pertama adalah mendorong digitalisasi perbankan. Kedua adalah mempromosikan fintech yang tertaut dengan perbankan terbuka. Ketiga meningkatkan peran startup dalam ekonomi dan keuangan syariah.

"Kita ingin anak muda mentransfer kemampuan dan keuangan mereka untuk mengembangkan startup-startup baru dari pertanian, UMKM, ritel, dan wakaf," jelasnya.

Terakhir adalah kolaborasi lintas batas. Menurutnya, kolaborasi pembayaran cepat juga perlu dibicarakan dalam aspek ekonomi dan keuangan syariah.

Rantai nilai halal

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan tantangan bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia adalah bagaimana menghasilkan produk halal untuk pasar yang besar, seperti Indonesia.

"Kita tahu ini (pasar syariah) adalah pasar besar dan mungkin sedang diisi oleh pemain global. Jadi, bagaimana kita menghasilkan produk-produk halal untuk pasar yang besar di Indonesia. Sebanyak 80% dari 268 juta masyarakat kita adalah pasar syariah," ungkap Doddy.

Maka, lanjutnya, munculah konsep halal value chain yang dibangun pasar domestik, yang mengupayakan agar produksi tidak hanya menyentuh pasar domestik tetapi bisa terlibat sebagai pemain untuk pasar global. Dampak lanjutannya akan meningkatkan ekspor negara dan berdampak pada kestabilan rupiah.

Dalam melakukan pengembangan ekonomi syariah, BI melakukan pengembangan ekosistem halal value chain (HVC). Beberapa sektor utama yang menjadi fokus pengembangan, yaitu integrated farming, makanan dan minuman, fesyen, wisata halal, dan renewable energy.

Setiaji Bintang Pamungkas

Berita Terkait

Komentar