#Toleransi#Kerukunan#Nyepi

Toleransi dan Nyepi

( kata)
Toleransi dan Nyepi
(Ilustrasi : Pixabay)

SEBUAH realita yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun bahwa Indonesia adalah negara majemuk. Kebinekaan budaya, adat istiadat, etnis suku, bahasa, bahkan agama tersuguh di bumi nusantara, tersebar di ribuan pulau yang ada di dalamnya. Maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika pun sangat masyhur sebagai upaya untuk menyatukan keragaman yang ada.

Lebih lagi, negara kita menjamin kemerdekaan setiap warga negaranya untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Artinya, negara memberikan jaminan pada setiap warga negara bebas dan berhak untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya serta menghormati HAM.

Akan tetapi, dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan undang-undang. Lebih lanjut, pengaturan tentang agama disebutkan bahwa agama yang dilayani pemerintah adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu (UU No. 1 Tahun 1965).

Oleh karena itu, sikap tasamuh atau toleransi menjadi kata yang vital untuk dipegang erat dan diwujudkan dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bertanah air. Toleransi dalam konteks ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antarmanusia) menjadi keniscayaan bagi seluruh elemen bangsa untuk merawat kebinekaan, bukan menghapus keragaman.

Toleransi memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan pendapatnya, melakukan sesuatu yang orang lain tidak sependapat dengannya tanpa ada intervensi dan intimidasi. Dengan toleransi, masing-masing pihak saling menghormati, menghargai, dan mampu menjadi jembatan bagi kesenjangan pola pikir dan budaya, sehingga akan menemukan titik temu persamaan dalam perbedaan. Toleransi menjadi solusi bagi realitas benturan perbedaan dari setiap individu yang memiliki norma dan aturan berbeda.

Dalam konteks keindonesiaan, toleransi menjadi penting karena dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan menambah kekuatan keimanan. Keragaman tradisi dan agama mampu menumbuhkan kuatnya toleransi. Hal ini juga akan meningkatkan rasa cinta dan bangga terhadap tanah air karena memiliki keanekaragaman yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta Alam Semesta.

Perayaan Nyepi

Sebentar lagi saudara kita umat Hindu akan melaksanakan peribadahan pada Hari Raya Nyepi, mereka akan melaksanakan Caturbrata (empat pantangan) yaitu amati lelunganan, amati lelanguan, amati karya, dan amati geni. Rangkaian ibadah ini merupakan upaya umat Hindu menjalin hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan antaramanusia dengan alam lingkungan. Mereka melakukan kontemplasi mengenai Tuhan, mengenai betapa manusia tidak ada kekuatan untuk mendahului kehendak Tuhan terlebih mengatur kekuasaan Tuhan. 

Pada saat itu juga, umat Hindu melakukan refleksi akan perjalanan hidup mereka dan mengevaluasinya sebagai modal untuk masa depan yang lebih baik. Melalui Nyepi, umat Hindu kembali menata diri untuk meningkatkan kualitas kehidupan untuk berkiprah dengan baik kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam momen Nyepi inilah toleransi, baik sebagai bangsa dan setanah air maupun sebagai umat  beragama, harus ditunjukkan oleh segenap elemen bangsa. 

Proses perenungan dalam rangka peningkatan kualitas ibadah umat Hindu ini pada dasarnya juga diajarkan oleh agama lain. Dalam Islam pun terdapat ibadah saat kaum muslim “menyepi” merenungkan hakikat kehidupan dengan mendekatkan diri kepada Sang Khalik yang disebut dengan iktikaf. Dalam Kitab Fathul Bari: 4/271 disebutkan bahwa iktikaf menurut syariat Islam adalah berdiam di masjid yang dilakukan seseorang dengan niat tertentu dan dengan aturan tertentu.

Sejarah juga mengisahkan bagaimana para wali seperti Sunan Kalijaga melakukan perenungan dalam bentuk menyendiri di suatu tempat untuk melakukan pendekatan kepada Allah swt. Begitu juga Nabi Muhammad saw semasa hidupnya juga pernah melakukan penyendirian (khalwat) di Gua Hiro dengan menjauhi serta memutuskan hubungan dengan hal yang bersifat duniawi. Dari hal ini kita bisa mengetahui bahwa iktikaf mampu dijadikan sarana untuk beribadah sekaligus menyembah Allah swt.

Penting untuk disadari seluruh umat beragama bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan untuk menyembah Sang Kuasa melalui bentuk yang berbeda sesuai tuntunan agamanya, sehingga toleransi sangat penting khususnya bagi bangsa Indonesia. Toleransi ini diharapkan mampu membangun optimisme dan semangat membangun bangsa. 

Kasih dan damai merupakan inti ajaran dari setiap agama, karena itu adalah kebutuhan kemanusiaan. Di berbagai kitab setiap agama bisa dipastikan ada penjabaran tentang rasa cinta dan kedamaian di dalamnya. Apalagi, dalam Islam yang dari namanya sendiri salama berarti keselamatan dan kedamaian. Kedamaian ini bisa terwujudkan melalui dua komponen yaitu individu dan masyarakat. Ketika setiap individu mampu mewujudkan kedamaian, maka kondisi ideal di masyarakat pun akan terbentuk.

Toleransi Beragama

Kedamaian dan kasih sayang adalah tujuan yang merupakan mimpi para pendiri bangsa sesuai dengan yang diharapkan oleh setiap agama. Terkadang, kedamaian ternodai sikap intoleran yang masih saja dikibarkan beberapa kepentingan. Toleransi terhalang oleh pemahaman agama yang dangkal dan perbedaan penafsiran atas firman-firman Tuhan.

Dinamika konflik antarumat beragama sering mewarnai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat harus dididik untuk bersikap dewasa terhadap perbedaan dengan tidak melihat konflik dengan kacamata sempit, namun harus melihatnya dengan visi yang luas bagi kemaslahatan semua.

Perlu diingat konflik muncul bukan saja karena faktor agama. Terkadang agama dijadikan kambing hitam kepentingan politik, ekonomi, dan sejenisnya. Padahal, sejatinya agama dihadirkan bagi manusia untuk menjadi wadah bersatunya umat manusia. Siapa pun yang memiliki kematangan dalam beragama, ia akan mampu mewujudkan kedamaian dan keadilan bagi orang lain.

Toleransi akan terhalang sikap saling merasa benar, bersikeras bahwa apa yang diyakininya merupakan kebenaran tak terbantahkan. Terkadang sikap ini memunculkan pemikiran irasional yang berujung kepada radikal dan diwujudkan dengan tindakan anarki. Sikap ini tentu akan merusak tatanan kebhinekaan dan mengancam persatuan dan kesatuan. Di sinilah tantangan berat Indonesia untuk mewujudkan peradaban bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan di tengah fakta bahwa Indonesia sangat heterogen dan multikultural.

Mari kita pegang prinsip warisan para leluhur dan pejuang bangsa untuk hidup bersama, sekalipun memiliki keyakinan dan agama yang berbeda, dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia mampu hidup berdampingan secara damai. Mari jaga keseimbangan dan keselarasan sehingga akan terwujud keseimbangan antara kepentingan vertikal maupun horizontal.

Khairuddin Tahmid, Ketua Umum MUI Lampung



Berita Terkait



Komentar