#opini#LampungPost#ToleransiBeragama

Toleransi Beragama ala Kiai Hasyim Muzadi

( kata)
Toleransi Beragama ala Kiai Hasyim Muzadi
Ilustrasi toleransi beragama. kompasiana.com

SIKAP toleransi dalam beragama merupakan bagian dari ajaran Islam. Karena itu, jika umat Islam tidak memiliki sikap toleransi beragama, sebenarnya mereka belum sepenuhnya mengamalkan ajaran Islam yang benar.
Di sinilah diperlukan sikap yang seimbang antara toleransi dan keimanan. Dengan keseimbangan itu, umat Islam dapat bekerja sama dan hidup berdampingan dengan kelompok agama lain secara damai. Kiai Hasyim Muzadi dikenal sebagai tokoh Islam yang sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan nilai-nilai moderasi Islam dan mengimplementasikan konsep toleransi beragama secara proporsional.
Sejak tinggal di Malang dan aktif di setiap jenjang kepengurusan Nahdlatul Ulama hingga menjadi Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim bersama tokoh lintas agama bekerja keras untuk melawan upaya intoleransi agama di Indonesia. Setiap kali meletus upaya untuk membenturkan agama satu dengan lainnya, beliau dengan cepat menemui rama, biksu, pendeta, dan lainnya.
Beliau menjalin hubungan yang sangat dekat dengan para tokoh lintas agama baik lokal maupun nasional sehingga setiap kali ada upaya serangan agama yang satu dengan lainnya yang bisa merusak kerukunan antarumat beragama, Kiai Hasyim dengan cepat bisa melakukan upaya klarifikasi dan dialog dengan tokoh-tokoh lintas agama.
Dalam pandangan sederhana, Kiai Hasyim menganggap toleransi agama itu seperti meja dan kolong meja. Setiap meja pasti memiliki kolong karena itu masuk bagian dari sunatullahnya meja. Hampir tak mungkin ada meja tanpa kolong. Sebagaimana kerukunan antarumat beragama dalam sebuah negara yang plural juga menjadi keniscayaan. Jika kerukunan lintas agama terkoyak, kehidupan bernegara menjadi tidak sehat dan tidak akan mampu mempertahankan esksistensinya sebagai negara. Dengan kata lain, tanpa kerukunan umat beragama, negara juga akan ambruk.
Di atas meja biasanya diletakkan sebuah taplak penutup meja. Selain sebagai penghias, taplak berfungsi melindungi meja. Taplak itu bisa diibaratkan sebagai toleransi, sedangkan meja itu ibarat agama atau keyakinan. Toleransi bukan esensi agama, melainkan melindungi hubungan antarumat beragama.
Taplak meja mudah dilipat dan dibawa ke mana-mana, tapi meja tidak perlu dilipat dan dibawa ke mana-mana. Demikian halnya toleransi itu bisa dibawa ke mana-mana, tapi keyakinan atau agama tidak bisa digeser pada posisi yang bukan pada tempatnya.
Toleransi itu bukan berarti pemeluk Kristen ikut salat jumat di masjid atau umat Islam ikut ibadah di gereja. Setiap umat beragama silakan beribadah sesuai dengan keyakinan dan pada tempat ibadahnya sendiri karena toleransi bukan mencampuradukkan keyakinan.
Kalau hal itu terjadi, yang sebenarnya terjadi ialah penodaan agama bukan toleransi agama. Toleransi harus dilandasi keyakinan beragama, bukan dilandasi humanitas karena humanitas terkadang memisahkan diri dari ketuhanan. Toleransi tidak boleh dibangun dengan meninggalkan nilai keyakinan agama.

Robohnya Bangunan Toleransi

Sebagian besar pemicu konflik agama di dunia disebabkan robohnya bangunan toleransi antarumat beragama. Selain faktor kesalahpahaman dalam memahami agama-agama, terdapat faktor lain yang menjadi alasan terjadinya konflik sosial dan konflik antaragama yang didasarkan pada kepentingan nonagama yang mendompleng ajaran agama dan menggunakan agama sebagai motif untuk tujuan-tujuan yang tidak ada kaitannya dengan agama seperti kepentingan politik, ekonomi, dan budaya yang “diagamakan”. Kepentingan-kepentingan itu mungkin berasal dari kelompok-kelompok tertentu yang menyatakan motif-motif mereka atas nama agama dan bahkan menggunakan tema-tema agama.
Toleransi hari ini masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Kepentingan politik praktis dengan membawa segmentasi keyakinan bisa membawa malapetaka bagi kerukunan umat beragama. Gesekan dan kepentingan politik yang melibatkan agama di dalamnya akan menyebabkan cahaya toleransi bisa saja padam dan membuat ruang kebersamaan lintas agama berubah menjadi perpecahan, permusuhan, dan saling menuduh karena dilandasi perasaan curiga.
Menurut Kiai Hasyim, kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia harus diperkuat dan terus dipupuk. Indonesia tidak boleh kembali ke belakang soal kerukunan umat beragama. Konstruksi toleransi agama harus dibangun melalui dialog dan keterbukaan antaragama. Hampir setiap doktrin agama memberi ruang atau tempat bagi nilai-nilai universal kemanusiaan yang dapat digunakan semua agama untuk saling membantu dan bekerja sama.

Lima Tahapan

Kiai Hasyim berpandangan ada lima tahapan yang bisa dijadikan pijakan untuk menyemai benih toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Fase pertama, setiap agama berjalan sendiri-sendiri. Setiap umat beragama yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dalam lingkup kepentingan yang sempit pada fase ini tidak mungkin terjadi toleransi karena setiap agama terjebak dalam egoisme dirinya sendiri.
Fase kedua, setiap agama sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tak ada ruang bagi umat beragama untuk peduli dengan urusan umat lain. Setiap pemeluk agama berorientasi pada keselamatan agama dan umatnya tanpa memedulikan kesulitan umat lain. Pada tahapan ini juga kerukunan dan toleransi tidak mungkin terwujud mengingat setiap agama hanya membela umatnya tanpa peduli degan kesulitan umat lain.
Fase ketiga, perjumpaan antara agama dan agama lain dengan menonjolkan perbedaan yang ada di tiap-tiap agama tersebut. Karena mereka bertemu dan menonjolkan perbedaan, yang terjadi justru saling menyalahkan dan mempertajam permusuhan. Tahapan ini disebut dengan istilah apologetic predatorial (predatory apologetics). Pada tahapan ini, alih-alih akan terwujud toleransi antaragama, justru yang terjadi ialah permusuhan antaragama.
Fase keempat, dalam tahapan ini agama berjumpa dengan agama lain dalam lingkup sosial, budaya, dan kemanusiaan. Pada fase ini umat beragama sudah tidak lagi berbicara tentang perbedaan doktrin, tetapi berbicara tentang nilai-nilai universal dan kemanusiaan yang diperjuangkan setiap agama. Perjumpaan lintas agama yang dilandasi niat untuk mencari solusi masalah sosial dan kemanusiaan akan bermuara pada titik temu yang konstruktif.
Setiap agama akan bersepakat melakukan kerja sama serta melakukan aksi bersama. Tahapan ini disebut fase koeksistensi (co-existence). Suatu tahapan ketika para pemeluk agama yang berbeda keyakinan dapat hidup berdampingan secara damai dan melakukan aksi-aksi nyata untuk memberi pesan pentingnya perdamaian dan kesejahteraan.
Fase kelima, tahapan perjumpaan agama dengan agama lain dengan niat untuk saling menghidupi. Tahapan ini disebut proeksistensi. Proeksistensi merupakan semangat untuk hidup bersama secara dinamis dan harmonis di tengah-tengah kemajemukan dan berbagai perbedaan yang ada di masyarakat dengan mengedepankan visi kerja sama pemberdayaan ekonomi.

Pemberdayaan Ekonomi

Dalam pandangan Kiai Hasyim Muzadi, konstruksi toleransi pada tahapan ini berfokus pada visi pemberdayaan ekonomi sehingga toleransi tidak cukup hanya membiarkan pemeluk agama lain ada (koeksistensi), tetapi lebih dari itu, yakni memberdayakan dengan berpartisipasi aktif mengadakan (mengeksiskan) pemeluk agama lain (proeksistensi). Transformasi dari sikap koeksistensi menuju proeksistensi ini hendaknya tidak hanya mewujud dalam wacana, tapi juga dalam sikap, konsep, rumusan, dan format pemberdayaan ekonomi masyarakat secara jelas.
Apalagi, pada era globalisasi ekonomi yang sudah semakin mengkhawatirkan dalam menciptakan pola kemiskinan baru, pemberdayaan kekuatan-kekuatan lokal tidak bisa diabaikan begitu saja. Gagasan toleransi Kiai Hasyim ini penting dikemukakan kembali mengingat keterpurukan kita sebagai bangsa dan hilangnya harga diri kita sebagai masyarakat telah membuat semakin hancurnya martabat kita sebagai manusia. Seluruh eleman lintas agama harus bisa bekerja sama saling menghidupi untuk memutus mata rantai keterpurukan ekonomi dan kemiskinan. n

Khariri Makmun, Direktur Moderation Corner (Zawiyah Alwasathiyyah), Peneliti Institut Hasyim Muzadi (IHM), dan Direktur Kerja Sama Luar Negeri ICIS

Berita Terkait

Komentar