#Refelsi#Kolom#Tol#JTTS

Tol Beradab

( kata)
Tol  Beradab
Ilustrasi Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung. Foto: MI/Dwi Apriani

Iskandar Zulkarnain Wartawan Lampung Post

TUNTAS sudah pembangunan jalan tol  trans-Sumatera (JTTS) untuk ruas Lampung—Sumatera Selatan. Publik mengapresiasi kerja keras dan cerdas pemerintahan Jokowi. Dalam waktu yang relatif singkat, jalan tol Lampung dibangun tercepat dalam sejarah berdirinya infrastruktur di negeri ini.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan oleh Presiden  Jokowi untuk ruas tol Bakauheni—Pematangpanggang—Kayuagung di Sabahbalau, Kamis (30/4/2015). Empat tahun kemudian, ruas tol Bakauheni—Terbanggibesar sepanjang 140 km diresmikan pada Jumat (8/3).

Untuk kedua kalinya, lanjutan jalan tol Lampung untuk ruas Terbanggibesar—Pematangpanggang—Kayuagung sepanjang 189 km kembali diresmikan Jokowi pada Jumat (15/11). Jalan tol itu terpanjang di Indonesia. Mimpi Lampung memiliki jalan tol menjadi kenyataan.

Dalam catatan sejarah! Jalan bebas hambatan itu pernah digagas gubernur se-Sumatera pada 15 tahun lalu. Berwacana. Berdiskusi agar jalan tol segera dibangun. Namun, biayanya dari mana?

Masih ingat nama Daendels? Dalam sejarah berdirinya Republik, namanya sangat dikenal. Dia adalah Herman Willem Daendels. Perintis membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan yang dibangunnya sepanjang 1.000 km itu berdampak sangat luar biasa bagi kemajuan ekonomi di Jawa.

Gubernur Jenderal Belanda yang berkuasa pada 1808—1811 itu dihujat karena menindas rakyat. Diktator sangat kejam, tidak berperikemanusiaan. Daendels menjajah negeri ini demi uang untuk negerinya, Kincir Angin. Jika dia tidak membuka jalan di sisi utara Jawa, mulai ujung barat (Anyer) sampai ujung timur (Panarukan), mungkin Jawa tidak semaju saat ini.

Jalan yang dibangun dengan tetesan keringat dan darah anak bangsa ini adalah jalan terpanjang di dunia saat itu. Daendels memaksa rakyat di sepanjang kawasan dibangunnya jalur transportasi. Akhirnya, Daendels mewujudkan mimpinya. Dalam setahun (1808) jalan selesai dibangun.

Sebuah prestasi amat gemilang. Kepentingan Daendels melindungi Jawa dari serangan Inggris terwujud sudah. Di balik itu, ribuan rakyat gugur akibat kerja paksa mewujudkan mimpi besar. Jalan yang sudah terbentang tersebut untuk mempercepat akses Belanda menghadapi musuhnya.

Pengalaman berharga Daendels itu menginspirasi anak bangsa. Saatnya Indonesia secara besar-besaran membangun infrastruktur darat, laut, dan udara untuk menghadapi persaingan global. Dalam rapat kabinet beberapa tahun silam, Jokowi mengenjot infrastruktur. Lampung dipuji oleh Presiden karena kemajuan pembangunan jalan tol yang luar biasa.

Percepatan itu, kata Presiden, harus dicontoh empat provinsi dalam pembangunan infrastruktur. Adalah Provinsi Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Banten.  Tidak salah jika pemerintah memberi perhatian lebih pembangunan di Bumi Ruwa Jurai ini.

Dalam merealisasikan janji kampanye, Presiden berkeinginan Sumatera, khususnya Lampung, menjadi daerah berdaya saing tinggi. Kesejahteraan rakyatnya meningkat. Sebab, tol yang dibangun serbacepat itu menjadi pintu masuk meningkatkan kemakmuran daerah.

Apa iya? Rakyat Lampung jangan sekadar menjadi penonton dari proyek raksasa itu! Namun, harus ikut andil—mengambil bagian dan memetik manfaat. Sukses hari ini, sukses untuk rakyat setelah pembangunan. 

***

Tol yang memecahkan rekor Muri dengan kategori jalan terpanjang dan tercepat pembangunannya itu, harus mampu mengembangkan tiga kluster utama pembangunan di Bumi Lampung ini. Seperti pengembangan industri  untuk wilayah timur, ketahanan pangan (tengah), serta kawasan wisata (barat). Yang jelas, jalan tol ini membuka wilayah terisolasi.

Pembangunan JTTS yang membelah Pulau Sumatera itu juga tidak hanya mengatasi ketertinggalan dari Jawa. Namun, lebih terpenting adalah terciptanya konektivitas antarwilayah untuk mengalirkan distribusi barang dan jasa menjadi lancar. Banyak manfaat yang didatangkan dari tol ini.

Presiden Jokowi membangun negeri ini dari pinggir. Tidak lagi Jawa sentries, tetapi semangat Indonesia sentris. Akibat kebijakan itu pula, Lampung menjadi kawasan agroindustri baru bagi Sumatera.

Dalam peringatan acara 100 hari kinerjanya, Gubernur Arinal Djunaidi menyebutkan manfaat ganda dari jalan tol tersebut. Salah satunya adalah  upaya memanfaatkan sisi kanan dan kiri jalan tol menjadi lahan produktif dengan tanaman ekologis hortikultura, seperti jengkol. Ide cerdas itu untuk mengantisipasi agar jalan tol Lampung tidak bernasib seperti tol Jagorawi.

Jika dibiarkan dan tidak dikelola, kata Arinal, masyarakat akan merusak lahan sehingga mengganggu lalu lintas di jalan bebas hambatan tersebut. Memanfaatkan lahan kiri dan kanan di tol Lampung  belum terlambat!

Berapa ribu pohon hortikultura siap ditanami sepanjang jalan tol? Dengan asumsi panjang jalan 329 km dan lebar sisi kanan dan kiri 30 meter. Lahan yang tersedia, siap ditanami seluas 987 hektare. Belum lagi memanfaatkan tempat peristirahatan (rest area) dan pemanfaatan gerbang tol yang bisa mendatangkan uang miliaran rupiah per hari.

Kesuksesan membangun jalan tol yang beradab harus dibarengi dengan keselamatan jiwa manusia. Dalam enam bulan beroperasinya tol Lampung,  puluhan anak bangsa merenggang nyawa. Penyebabnya? Sangat dirasakan, medan jalannya bergelombang. Minimnya rambu lalu lintas. Pengemudi lelah, mengantuk akibat minimnya rest area yang serbaterbatas.

Harus dievaluasi! Kementerian Perhubungan bersama Direktorat Lalu Lintas Polri harus menggencarkan standar pelayanan bagi angkutan. Jalan mulus dan lurus—membuat libido pengemudi ingin cepat tiba di tempat tujuan. Nafsu itu juga mengantarkannya ke rumah sakit bahkan ke lubang kubur.

Ditilik tingkat kecelakaan, jalan raya termasuk tol masih menjadi mesin pembunuh nomor satu. Apalagi banyaknya mobil truk bermuatan lebih, menjadi persoalan tersendiri. Dua kecelakaan terakhir di jalan tol Lampung disebabkan oleh truk. Sekali lagi diingatkan! Tidak bisa dikatakan sukses membangun infrastruktur,  jika masih banyak nyawa anak bangsa mati sia-sia di jalan tol.  ***

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar