#myanmar#Kudeta

Tokoh Seluruh Agama di Myanmar Turun ke Jalan

( kata)
Tokoh Seluruh Agama di Myanmar Turun ke Jalan
Sekelompok biksu bergabung dalam aksi protes ribuan warga dalam menentang kudeta militer di Naypyidaw, Myanmar pada 13 Februari 2021. (STR/AFP)


Yangon (Lampost.co) -- Semua agama di Myanmar -- Buddha, Kristen, Islam, dan Hindu -- bersatu dalam menentang kudeta militer. Jajaran tokoh dari keempat agama bergabung dalam unjuk rasa puluhan ribu warga yang berlangsung di sejumlah kota di Myanmar.

Pendeta, biarawati, biksu, dan pemuka agama lainnya terlihat ikut berunjuk rasa di kota Mandalay, Pathein, dan Myitkyina pada Minggu kemarin. Mereka membawa spanduk dan plakat yang menentang kudeta dan menyerukan penegakan demokrasi.

Baca juga: Pasukan Myanmar Bubarkan Pedemo dengan Tembakan

Dikutip dari Eurasia Review pada Senin, 15 Februari 2021, ratusan pemuda yang berasal dari gereja-gereja Katolik di Myanmar juga ikut turun dalam demonstrasi di Yangon dan Mandalay. Aksi protes menentang kudeta ini telah memasuki hari ke-9 pada Minggu kemarin.

Generasi Z memainkan peranan penting dalam demonstrasi anti-kudeta di Myanmar. Aksi ini merupakan gerakan protes terbesar di Myanmar sejak pemberontakan 1988 dan Revolusi Safron 2007.

Didominasi kelompok muda, unjuk rasa di Myanmar juga melibatkan jajaran tenaga kesehatan, dosen, pengemudi kendaraan umum hingga pegawai negeri sipil.

Warga yang tidak ikut ke jalan juga turut berkontribusi dengan menyalakan lilin sembari memukul-mukul panci dan penggorengan -- sebuah ritual tradisional di Myanmar dalam mengusir hal-hal buruk.

Unjuk rasa di Yangon diwarnai aksi teatrikal sekelompok pemuda yang memainkan violin dan menggelar 'prosesi pemakaman' bagi jenderal Min Aung Hlaing, pemimpin junta militer di Myanmar.

Sejumlah perempuan juga ikut berunjuk rasa dengan mengenakan pakaian tradisional Myanmar.

Sementara itu, kendaraan militer mulai terlihat melintas di sejumlah kota di Myanmar. Jaringan internet juga hampir sepenuhnya terputus sejak Minggu malam kemarin.

Suara tembakan terdengar di beberapa kota, yang disebut pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai "deklarasi perang" militer kepada masyarakat Myanmar.

Kudeta Myanmar terjadi pada 1 Februari lalu, yang dimulai dengan penahanan sejumlah pejabat negara, termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.

Winarko







Berita Terkait



Komentar