#opini#LampungPost#TitikTemuAgama,Budaya,danNKRI

Titik Temu Agama, Budaya, dan NKRI

( kata)
Titik Temu Agama, Budaya, dan NKRI
Ilustrasi. www.borneonews.co.id

SEBAGAI warga negara Indonesia, apa pun agama kita, tentunya kehadiran kita tidak dapat dilepaskan dari budaya lokal masyarakat Indonesia. Sebab, bagaimanapun kita adalah anak kandung budaya yang membesarkan kita.
Sebagai seorang Jawa muslim, saya juga tidak bisa mengakui bahwa saya penganut Islam murni. Sebab, apa yang melekat pada diri saya adalah campuran antara budaya Jawa, Indonesia, dan Islam. Oleh karena itu, sangat tidak pantas apabila kita memperhadapkan vis a vis antara tradisi lokal, semangat keindonesiaan, dan keislaman.
Lagipula setiap ajaran agama selalu memerlukan rumah dan teritorial negara sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu, memperdebatkan agama dan budaya lokal Indonesia adalah yang hal berbeda dan sama sekali tidak berguna. Pun kalau kita membayangkan dunia hanya diisi dan dikuasai oleh satu bahasa, etnis, budaya, dan agama adalah mustahil. Selain itu itu juga tidak menarik dihuni.
Itu sebabnya keterikatan saya pada budaya lokal dan cita-cita keindonesiaan perlu dipertemukan dengan komitmen keislaman saya dalam rumah epistemologis-ideologis yang bernama Pancasila. Jika sila ketuhanan diposisikan sebagai sentral, yang dimaksudkan adalah kebertuhanan kita harus menumbuhkan komitmen kemanusiaan yang bermuara kepada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat Indonesia.
Kalaupun sila kemanusiaan yang menjadi pijakan sentral, yang diharapkan adalah perilaku kemanusiaan yang berketuhanan dan yang peduli kepada agenda keadilan dan kesejahteraan bangsa, bukan sebaliknya. Kita mengaku berfalsafah Pancasila, tetapi suka berseteru dan menindas sesama warga Negara.

Universalitas dan Lokalitas

Terlepas dari apa pun bahasa, agama, etnis, dan budaya seseorang, terdapat nilai-nilai universal yang sama-sama ingin dijaga dan ditegakkan. Misalnya, konsep dan keinginan untuk menegakkan keadilan, kejujuran, perdamaian, dan hidup saling hormat-menghormati.
Dalam kajian psikologi moral dikatakan setiap pribadi ingin meraih well being, hidup yang baik, benar, dan bahagia. Untuk meraih itu, salah satu syarat mutlak yang mesti dipenuhi adalah mampu membangun a good relationship, hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya dan yang memiliki kepentingan dengannya.
Hal ini meniscayakan sikap untuk selalu menghormati perbedaan, menerima perbedaan, dan merayakan perbedaan itu. Jadi, menghargai keragaman merupakan keniscayaan jika ingin hidup damai (Hidayat, 2015).
Namun, harus diakui pula, dalam sejarah umat manusia, sering terjadi konflik, peperangan, kejahatan, dan semua itu kenyataan tidak terhindarkan. Ini karena manusia terlahir dengan membawa nafsu dan kecenderungan egoistik serta tega memangsa yang lain.
Namun siapa pun kita, apa pun agama dan budaya kita, rasanya nalar sehat sepakat mengatakan bahwa kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kedamaian, serta keadilan merupakan realitas yang diidealkan dan selalu didambakan sepanjang sejarah. Semua itu sejalan dengan pesan agama sehingga peperangan dan kejahatan dianggap melawan ajaran dasar agama dan peradaban.
Mengingat semua agama diyakini datang dari Tuhan pencipta manusia, nilai-nilai dasar agama memiliki perhatian kepada agenda kemanusiaan universal, sekalipun agama lahir dan terbentuk dalam jubah budaya dan bahasa yang bersifat lokal. Oleh karena itu, pesan universalitas agama terwadahi dalam format lokalitas bahasa dan budaya (Hidayat, 2015).
Ketika jumlah penduduk yang mendiami bumi menjadi kian banyak, jumlah penduduk tidak sebanding di saat agama-agama itu lahir. Perjumpaan lintas pemeluk agama pun berlangsung secara intens dan masif. Saat itulah nilai-nilai universal agama sering tertutupi dengan bungkus lokal.
Bungkus yang semula merupakan budaya lokal bersifat profan lalu disakralkan. Membela budaya seakan identik dengan membela agama. Arabisme dan Islamisme seolah satu-kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Padahal berbeda sama sekali. Arab adalah teritori yang tak luput dari budaya.
Adapun agama adalah sakral yang nilai-nilainya turun langsung dari titah Tuhan. Agama Kristen yang juga lahir di wilayah Timur Tengah sekarang pun telah ter-Barat-kan.
Keberagamaan di Nusantara ini bisa dilihat dari berbagai aspek yang lebih esensial dan substantif. Namun, oleh sebagian orang dipandang dangkal dan hanya bergerak di pinggir. Mungkin sekali umat Islam Indonesia lebih bersemangat dalam melaksanakan ibadah. Lebih toleran dan senang menjaga keamanan ketimbang masyarakat Arab yang ribut bertengkar dan berperang dengan membawa jargon keagamaan.
Misalnya saja konflik suni-syiah, itu warisan lama perebutan kekuasaan politik umat Islam Arab sepeninggal Rasulullah. Di Indonesia, para sultan rela membubarkan diri demi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melihat itu, sebagai anak kandung dari budaya lokal Indonesia dengan sekaligus agama yang kita peluk masing-masing, mari kuatkan komitmen kepada Pancasila dengan menjaga kesatuan NKRI.
Kita jadikan agama dan budaya sebagai fondasi kokoh NKRI. Soekarno sebagai founding fathers NKRI juga pernah mengingatkan, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini”. Jadi, jangan sekali-kali mempertentangkan agama dan budaya dalam bingkai NKRI. Wallahualam.

Mohammad Sholihul Wafi , Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

loading...

Berita Terkait

<<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621
loading...
=======
>>>>>>> .r624

Komentar