bubonikvirus

Tiongkok Peringatkan Waspada Virus Bubonik

( kata)
Tiongkok Peringatkan Waspada Virus Bubonik
Foto CDC memperlihatkan bakteri wabah bubonik yang diambil dari seorang pasien. (Foto: CDC/HANDOUT/AFP/Getty)

Beijing (Lampost.co) -- Otoritas kesehatan Tiongkok memperingatkan kepada semua pihak untuk waspada terhadap wabah bubonik usai satu kasusnya terkonfirmasi di wilayah otonom Mongolia Dalam. Menurut laporan media nasional, pasien terduga wabah bubonik itu -- seorang pengembala -- sudah dikarantina dan berada dalam kondisi stabil.
 
Wabah bubonik, atau dikenal dengan Black Death, kerap diasosiasikan dengan penyakit pes. Wabah yang diakibatkan infeksi bakteri tersebut cenderung mematikan, namun dapat diobati dengan antibiotik yang tersedia saat ini.
 
Dilansir dari BBC, Senin 6 Juli 2020, otoritas Tiongkok kini mengeluarkan peringatan level 3 dalam bidang penyakit menular. Level tersebut merupakan dua terbawah dalam sistem kewabahan di Tiongkok.

Kasus pertama wabah bubonik di Tongkok muncul di sebuah rumah sakit di kota Bayannur di Urad Middle Banner, Mongolia Dalam, pada Sabtu kemarin. Otoritas Tiongkok tidak menyebutkan bagaimana pengembala tersebut bisa terinfeksi wabah bubonik.
 
Kasus wabah bubonik secara berkala dilaporkan dari berbagai negara di dunia. Madagaskar pernah mengonfirmasi lebih dari 300 kasus dalam sebuah wabah pada 2017.
 
Mei tahun lalu, dua orang di negara Mongolia meninggal akibat wabah tersebut. Keduanya terinfeksi wabah bubonik usai memakan daging marmut mentah.
 
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, mengatakan kepada BBC bahwa daging dan ginjal marmut mentah dianggap masyarakat lokal sebagai obat tradisional.
 
Marmut dikenal sebagai salah satu pembawa bakteri, dan sering diasosiasikan dengan wabah bubonik. Wabah ini dikenal lewat ciri-ciri pembengkakak di kelenjar getah bening, namun sulit diidentifikasi di fase awal. Biasanya gejala baru muncul tiga hingga tujuh hari usai terinfeksi.
 
Meski wabah bubonik patut diwaspadai, sejumlah pakar menilai penyakit tersebut tidak akan sampai memicu epidemi atau pandemi.
 
"Tidak seperti di abad ke-14, saat ini kita sudah memahami penularan penyakit ini," kata Dr Shanti Kappagoda, seorang ahli penyakit menular dari Stanford Health Care.
 
"Kita sudah tahu cara mencegahnya. Kita juga sudah mampu mengobati pasien terinfeksi dengan antibiotik yang efektif," pungkasnya.
 

Medcom



Berita Terkait



Komentar