#bandarlampung#lampung#ekonomi#bisnis#bank

Tingkatkan Inklusi Keuangan, Bank Permata Hadirkan Cerita

( kata)
Tingkatkan Inklusi Keuangan, Bank Permata Hadirkan Cerita
Permata Bank berikan bantuan meja kursi kepada YPI Perkemas, Selasa. Effran

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Bank Permata mendukung peningkatan kualitas pendidikan di kawasan pesisir Bandar Lampung dengan memberikan bantuan sarana prasarana pendidikan kepada Yayasan Perguruan Islam (YPI) Perkemas di Jalan Ikam Kerapu, Telukbetung Selatan, Selasa 1 Oktober 2019. Kegiatan dalam program Cinta dan Empati dari Kita (Cerita) itu menjadi langkah untuk meningkatkan literasi keuangan. 

Branch executive Manager Bank Permata Cabang Lampung, Kwa Chin Seng menjelaskan dalam mendukung dunia pendidikan bank swasta tersebut secara rutin memberikan bantuan kepada sekolah dan pelajar, baik tingkat TK, SD, SMP, maupun SMA, serta anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal itu dimplementasikan melalui program Cinta dan Empati dari Kita (Cerita).

"Cerita ini program sejak 2016 yang digelar serentak di 50 kota. Untuk di Lampung sendiri kami lakukan di YPI Perkemas dengan memberikan bantuan 10 unit meja dan 20 kursi untuk mendukung fasilitas belajar mengajar. Sebab, di sekolah ini untuk belajar siswanya masih lesehan, karena kekurangan kursi dan meja," kata Kwa Chin Seng. 

Menurutnya, program Cerita menjadi kegiatan dalam mendukung bulan inklusi keuangan yang digagas Otoritas Jasa Keuangan di Oktober ini. Dimana, Cerita memberikan edukasi literasi keuangan yang dikemas melalui Modul Finansial (Modal) yang interaktif ke berbagai tingkat pelajar. Sehingga dapat mewujudkan akses keuangan yang lebih luas.

"Untuk memperkaya materi literasi keuangan bagi lingkungan sekolah, kami juga bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk berbagi inspirasi dan pengetahuan seputar jurnalistik. Semua kegiatan ini sekaligus dalam merayakan ulang tahun Bank Permata ke-17," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, Cerita juga berfokus pada kalangan ABK. Berdasarkan penelitian 60% penyandang disabilitas belum memiliki akses perbankan. Sebab, golongan itu dianggap tidak cakap dalam mengelola keuangan, sehingga tidak laik mengakses jasa lembaga keuangan. 

"Kami berupaya untuk menjadi bank yang inklusi dengan selalu melibatkan disabilitas disetiap CSR. Tapi, untuk saat ini kami belum menemukan sekolah disabilitas yang memang membutuhkan bantuan, baik dari sisi infrastruktur maupun fasilitas belajar," ujar dia.

Kepala Sekolah YPI Perkemas, Imelda Soraya mengakui lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu tergolong sederhana dari segi sarana prasarana. Dengan proses belajar mengajar yang harus diatur waktunya secara bergantian antara SD, MTs, dan MA. 

"Dari meja kursi memang kekurangan, sehingga waktu belajar pun harus diatur. Makanya kami sangat terharu dengan adanya bantuan ini. Dari siswanya pun memang sebagian besarnya merupakan dari warga kurang mampu, yaitu kalangan nelayan, buruh, dan asongan. Sehingga, jika kami mau melakukan pengadaan sarana prasarana sekolah kami pun tidak sanggup," katanya.

Effran Kurniawan

Berita Terkait

Komentar