IKMkomoditas

Tingkatkan Harga Jual Komoditas Pertanian Lokal Melalui IKM

( kata)
Tingkatkan Harga Jual Komoditas Pertanian Lokal Melalui IKM
Caption; Pengrajin aneka olahan keripik, Tri Misrati, menunjukkan hasil produksinya sebelum proses pengemasan di sentra produksi, sekaligus kediamannya, di Desa Bumi Restu, Kecamatan Abung Surakarta, Rabu (23-9-2020). LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO

KOTABUMI (Lampost.co) -- Geliat usaha industri kecil dan menengah (IKM), di perdesaan khususnya selama masa pandemi covid-19 telah menggerakkan ekonomi. Selain membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat, penyerapan bahan baku yang bersumber dari komoditas pertanian lokal itu telah menaikkan nilai jual komoditas-komoditas pertanian tertentu. 

"Selain mengolah keripik berbahan baku pisang kepok, saya juga mengolah keripik dari ubi jalar, singkong, sukun, nangka dan jamur tiram yang dihasilkan petani di seputar wilayah desa di Kecamatan Abung Surakarta" ujar Tri Misrati, pengrajin aneka keripik di sentra produksi sekaligus kediamannya, Desa Bumi Restu, Kecamatan Abung Surakarta, Rabu, 23 September 2020. 

Di sentra produksi bermerek dagang Elmuna Chips yang dibangun pada 2018 lalu, dia mengaku, tergerak memanfaatkan ubi jalar menjadi olahan keripik dengan varian rasa pedas dan wijen, singkong dengan rasa pedas, tales, keripik sukun, keripik nangka dan jamur dengan rasa original karena komoditas pertanian lokal itu tersedia melimpah didesanya dan dihargai dengan nilai jual murah di pasar-pasar tradisional.  

"Di pertengahan 2019 lalu, saya menambah aneka olahan keripik dengan bahan baku komoditas lokal yang tersedia melimpah didesanya selain pisang kepok  yang saya produksi sebelumnya dengan enam varian rasa. Yakni;  pedas, karamel wijen, karamel kacang, sale pisang wijen, coklat serta jipang pisang dan pasarkan di toko oleh-oleh juga supermarket di Bandar Lampung karena ingin meningkatkan nilai jual komoditas pertanian di desanya," tuturnya menambahkan. 

Sebelumnya,  harga beli komoditas itu di pasar tradisional sangat rendah. Bahkan untuk buah sukun, tidak laku di jual di pasar karenanya didesanya pohon sukun banyak di tebang masyarakat sebab di nilai  tidak memiliki nilai ekonomi. Dengan di olah menjadi keripik, harga  jual  komoditas pertanian itu di tingkat petani naik. Untuk pisang kepok persisirnya berkisar Rp6.000 tergantung kualitas, ubi jalar (Rp5 ribu/kg), singkong (Rp2 ribu/kg), tales (Rp4 ribu/kg), jamur tiram, Rp15 ribu/kg. Sedangkan buah sukun Rp2 ribu/buah dan nangka Rp20 ribu s/d Rp30 ribu perbuah tergantung ukuran. 

"Selama pandemi covid-19,  produksi olahan keripik mengalami penurunan dari sebelumnya sekali produksi berkisar 33 kg s/d 34 kg sehari sekarang hanya 14 kg hingga16 kg sehari dan untuk serapan keripik berbahan baku ubi jalar, singkong, sukun, nangka dan jamur tiram, rata-rata masih berkisar antara 4 kg s/d 5 kg, selebihnya keripik dari berbahan baku pisang kepok," tuturnya menambahkan. 

Harga jual semua produk olahan keripik yang di kemas dengan ukuran wadah plastik dengan berat perbungkus 250 gram, di jual dengan harga perbungkus Rp15 ribu. Sedangkan keripik tales, ukuran berat 200 gram, keripik jamur, ukuran berat 100 gram dan nangka ukuran 100 gram, dia juga jual sama, Rp15 ribu/bungkus. Khusus untuk jipang pisang, selain di bungkus plastik, produk dia kemas dalam wadah toples dengan harga jual Rp20 ribu/toples. 

"Saya memberdayakan tujuh orang tenaga kerja dari masyarakat setempat dan di masa pandemik saya optimis usaha bisa lebih berkembang serta dapat menjadi saluran berkat untuk meningkatkan ekonomi keluarga bagi masyarakat sekaligus menjadi media untuk dapat menggali potensi ekonomi kreatif yang lebih luas didesanya," ujarnya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar