#beritalampung#beritalampungterkini#radikalisasi#radikalisme#narapidanateroris#napiter

Tingkat Radikalisasi Napiter yang Dititipkan di Lapas Metro Rendah

( kata)
Tingkat Radikalisasi Napiter yang Dititipkan di Lapas Metro Rendah
Ilustrasi. Dok


Metro (Lampost.co) -- Narapidana terorisme (napiter) yang dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Metro merupakan seorang ASN di Muna, Sulawesi Tenggara. Napiter bernama Muhammad Fajar, S.P. alias La Kojo bin Laode Guru Tua (alm) kelahiran 7 Oktober 1977 diduga merupakan jaringan Daulah Islamiah dan ditetapkan bersalah berdasarkan amar Putusan PN Jakarta Barat Nomor: 1630/ Pid.sus/ 2020/ PN Jkt.Brt tertanggal 15 April 2021.

Kepala Lapas Kelas II A Metro, Muchamad Mulyana mengatakan pihaknya langsung mempelajari berkas usai penitipan napiter tersebut agar yang bersangkutan bisa membaur dengan narapidana lainnya. "Memang, kami belum tahu pasti peran M. Fajar ini sebagai apa. Namun yang jelas M. Fajar ini sebelumnya merupakan seorang PNS di Dinas Pertanian Kabupeten Muna, Sulawesi Tenggara," katanya, Rabu, 5 Oktober 2022.

Baca juga: Sengketa Tanah Masuk Lima Besar Aduan di Ombudsman Lampung

Dia menjelaskan berdasarkan berkas yang ada, yang bersangkutan tinggal di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dan tergolong dalam tingkat radikalisasi yang rendah.

"Hasil asesmen dari BNPT maupun Densus 88, M. Fajar ini dalam klasifikasi hijau atau radikalisasinya rendah. Kalau rendah yang bersangkutan ini artinya kooperatif dan sudah menyatakan ikrar setia kepada NKRI dan sudah melakukan program deradikalisasi yang dilaksanakan di Lapas Gunung Sindur, Bogor," ujarnya.

Dia menambahkan perpindahan M. Fajar ke Lapas Metro hanya untuk menghabiskan masa pidana hingga resmi terbebas. "Yang bersangkutan ini mulai ditahan pada 19 April 2020 dan diputus 3 tahun serta sudah menjalani 2 tahun 5 bulan. Artinya, sisa kurang lebih 7 bulan lagi habis masa pidananya. Semoga yang bersangkutan ini bisa kooperatif dan digabung dengan narapidana lainnya agar segera membaur," katanya. 

Mulyana menyebut yang bersangkutan sudah pernah mendapat remisi pada saat menjalani masa tahanan di Lapas Gunung Sindur. "Karena syarat untuk mendapatkan haknya selain sudah menjalani 6 bulan masa tahanan dia harus menyatakan ikrar NKRI. Kemudian telah mengikuti program pembinaan deradikalisasi BNPT. Ketika syarat itu sudah dipenuhi dan diusulkan untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan tadi, dan itu sudah dijalankan," ujarnya.

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar