#kwt#bertanamsayur#pertanian#beritalamteng

Tinggalkan Merumpi, Ibu-ibu KWT di Lamteng Hasilkan Omzet Jutaan dengan Bertanam Sayur

( kata)
Tinggalkan Merumpi, Ibu-ibu KWT di Lamteng Hasilkan Omzet Jutaan dengan Bertanam Sayur
Foto: Dok

Gunung Sugih (Lampost.co): Mengisi waktu luang ketika selesai menanam padi atau bertani, ibu-ibu yang tinggal di Kampung Liman Benawi, Trimurjo, Lampung Tengah, kini lebih produktif dari pada hanya sekedar beristirahat menonton televisi atau bergunjing antarsesama.

Sebelumnya, usai bekerja di sawah, masa panen, atau masa tanam, mereka hanya berdiam diri di rumah sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. Namun, mereka kini tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Pertani, Liman Benawi, Trimurjo, Lampung Tengah.

Saat KWT Bina Pertani sudah memiliki 90 anggota, dimana per anggota bisa menghasilkan uang Rp2,5--3 juta per bulan.

Dari mana pendapatan itu? Mereka bercocok tanam dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang luasnya tak maksimal, rata-rata 8 m x 10 m atau dibawahnya.

Berbagai tanaman mereka budidayakan tanpa pestisida atau bahan kimia, seperti sawi, kangkung, pakcoy, bahkan stroberi pun ada.

Tanaman holtikultura tersebut ditanam bertingkat dengan memanfaatkan lahan yang seadanya. Selain itu, mereka juga menghiasi pekarangan dengan berbagai macam bunga. Tentunya selain kemandirian dari pada ibu-ibu tersebut, mereka juga dibantu dari Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Lampung.

"Kami mulai sejak 2012 dari 12 orang iuran 10 ribu. Awalnya untuk tanam sendiri dan dikonsumsi sendiri. Lama-lama setelah dua tahun, kita sudah mulai produktif dua tahun kemudian dan bisa kita jual. Kita ada pasar KWT," Ketua KWT Bina Pertani, Widarni, Jumat, 6 Februari 2020.

Wirdani mengaku bersama anggotanya tidak menemukan hambatan dalam bercocok tanam. Namun kini guna memaksimalkan pekarangan terbatas dan meningkatkan produktivitas, kelompoknya tengah mengembangkan metode hidropnik dalam menanam pakcoy.

"Bahkan KWT ini, juga telah memproduksi olahan dari pakcoy, salah satunya jus (minuman). Ya mungkin bisa ada tambahan modal dan pelatihan untuk mengembangkan hidroponik," katanya.

Sementara, Siti Munifah selaku Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, mengatakan KWT harus terus dikembangkan dan didukung sebagai bentuk pembangunan pertanian di level keluarga.

"Hanya nonton sinetron yang isinya hayalan melulu. Karyanya disini luar biasa, menjadi kampung wisata, kita selalu support apapun yang dibutuhkan, termasuk tadi upaya pengembangan metode hidroponik baik penyuluhan maupun permodalan akan dibantu bekerja sama dengan Pemkab Lampung Tengah, BPP Lampung, dan instansi lainnya," kata dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar