#pemkabtuba#beritalampung

Tim Pakem Awasi Pergerakan Aliran JAI di Tulangbawang

( kata)
Tim Pakem Awasi Pergerakan Aliran JAI di Tulangbawang
Tim pengawas aliran kepercayaan dalam masyarakat (Pakem) Kabupaten Tulangbawang melakukan pengawasan terhadap aliran kepercayaan yang berkembang di daerah. Lampost.co/Ferdi


Menggala (Lampost.co) -- Tim pengawas aliran kepercayaan dalam masyarakat (Pakem) Kabupaten Tulangbawang melakukan pengawasan terhadap aliran kepercayaan yang berkembang di daerah. 

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tulangbawang, Khamami Ria, mengatakan pengawasan dilakukan sebagai langkah antisipasi penyebaran aliran kepercayaan atau keagamaan yang dianggap menyimpang.

Pengawasan yang dilakukan pekan lalu itu, lanjut dia, menyasar aliran kepercayaan 

Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kecamatan Rawapitu. 

"Di sana ada 50 anggota JAI terdiri dari 18 kepala keluarga. Keberadaan mereka terpantau masuk sejak 1992 di kecamatan itu," kata Khamami, di ruang kerjanya, Selasa, 28 September 2021.

Sejauh ini juga, kata dia, terdapat beberapa LSM berbasis agama berdiri di Tulangbawang, seperti, Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren yang di Kampung Dwiwarga Tunggaljaya, Kecamatan Banjaragung. 

Kemudian, organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Jalan Cemangguk A, Kelurahan Ujunggunung Ilir, Kecamatan Menggala, Saudara Muslimah (Salimah) di Kampung Tritunggal Jaya, Kecamatan Banjaragung. 

Ia mengaku, untuk mencegah tumbuhnya 

LSM berbasis agama yang menyimpang, pihaknya melakukan pemantauan di lapangan secara berkala. "Kami selalu cek jumlah keanggotaan dan kegiatannya di lapangan," kata dia. 

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Tulangbawang, Leonardo Adiguna, mengimbau JAI mentaati SKB 3 menteri dengan tidak menyebarluaskan ajarannya ke luar dari jamaahnya. 

"Kami meminta agar mereka selalu mendata jumlah jamaah dan melaporkannya, untuk mengetahui perkembangannya setiap tahun," ujar dia. 

Pengawasan yang dilakukan bersama itu, sebagai bentuk pencegahan agar peristiwa yang terjadi di Kalimantan Barat tidak terjadi di Tulangbawang

"Kalau ada indikasi (penyimpangan aliran kepercayaan) segera laporkan ke petugas atau aparat berkompeten untuk mencegah terjadinya konflik," ujar Leonardo. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulangbawang, Yantori, mengatakan JAI dianggap sesat, karena menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi. "Berdasarkan Fatwa MUI tidak ada lagi aliran JAI," ujar dia.

 

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar