#tumbai#tempattinggal#orangabung

Tiga Pusat Megalit di Wilayah Pegunungan

( kata)
Tiga Pusat Megalit di Wilayah Pegunungan
Rumah Adat Lampung (ilustrasi)

PADA penelitian mengenai daerah asal orang Abung menjadi tampak jelas, sesuai sejarah Abung, peran penting apa terkait dengan sejarah awal megalit yang ditemukan di tempat yang berbeda-beda di wilayah pegunungan tersebut. Penemuan itu memungkinkan Friedrich W Funke mendapatkan kesimpulan penting perihal pemburu kepala zaman dulu sebagai tempat tinggal, terutama dalam pemilihan wilayah.

Sebelum Funke memulai penelitian sejarah kehidupan orang Abung di kala itu, sangat perlu untuk membahas secara detail tentang kompleks megalit dan lokasi persembahan yang ditemukan dalan perjalanan tahun 1953. Itu juga berhubungan dengan megalit di daerah pegunungan yang telah terkenal dari dulu.

Seperti yang telah disebutkan, megalit berpusat pada tiga wilayah penting. Pertama, di dataran rendah Kenali di sebelah tenggara Danau Ranau. Di sana, di bagian timur pegunungan terdapat beberapa peninggalan megalitik di sekitar Kampung Batuberak dan Kenali.

Kedua, di lembah Way Pitai, di bagian timur pegunungan tengah, ditemukan kompleks megalit besar Kebuntebu di lima lokasi terpisah. Ini membenarkan kesimpulan terhadap corak hidup kelompok suku tersebut dengan adanya lempengan batu dan menhir tinggi berbentuk obelisk yang mereka bangun.

Peninggalan megalitik ketiga terletak di pegunungan bagian selatan, tidak jauh dari Gunung Tanggamus. Di sana, di kedua sisi Way Ilahan atas terletak dua kompleks menhir. Di tangkit Kurupan ditemukan jalan yang memiliki menhir di sepanjang sisinya, yang kemungkinan, berdasarkan bangunannya, dahulu terdapat lebih dari 64 tonggak batu yang kini masih terdapat 27 buah.

Tidak jauh dari tepi kanan Sungai Ilahan terdapat kompleks menhir Talangpadang yang telah ditemukan dan diceritakan oleh Van der Hoop beberapa puluh tahun lalu. Dahulu, sangatlah mustahil untuk menguraikan tempat asal megalit tersebut.

Kini kita tahu bahwa tidak ada pembawa budaya megalitik yang membangun batu-batu ini dengan pemindahan hipotesis ke Sumatera, tetapi batu-batu tersebut secara pasti dapat menggambarkan masyarakat Abung yang menghuni wilayah tersebut.

Cerita penemuan megalitik di seluruh wilayah pegunungan ini dengan cara yang sama. Funke menjelajah wilayah-wilayah itu sesuai dengan yang direncanakan berdasarkan jejak keberadaan orang Abung dulu. Tidak semua penjelajahan ke dalam pegunungan yang tertutup hutan belantara berhasil dilakukan. Perjalanan yang jauh menjadi sia-sia.

Sering Funke mendapat informasi adanya batu suci di suatu tempat di lembah hutan atau di punggung gunung yang berasal dari setan atau orang jahat. Meski pegunungan ini tidak berpenghuni, suku-suku yang menghuni pesisir (Paminggir) atau Rebang-Melayu dan Ogan-Melayu berpindah dari pegunungan belantara yang tidak dapat dilalui guna membuka lahan untuk ditanami pohon kopi atau lada sementara waktu.

Dalam pencarian ladang baru tersebut, mereka menemukan batu-batu yang tampak aneh di tengah hutan belantara. Hanya terdapat satu kejadian di Tangkit Kurupan, batu-batu tersebut dipindahkan.

Secara umum, masyarakat merasa sangat takut terhadap batu-batu yang asal-usulnya tidak jelas itu. Bahkan di Way Pitai para transmigran dari Jawa melakukan ritual sesembahan terhadap megalit-megalit tersebut. 

Resnsi buku Fauzie Nurdin, guru besar Filsafat Sosial dan budayawan Lampung yang berjudul Orang Abung

Berita Terkait

Komentar