#rupiah#korona

Tiga Faktor Rupiah Menguat di Tengah Pandemi Covid-19

( kata)
Tiga Faktor Rupiah Menguat di Tengah Pandemi Covid-19
dok Lampost.co


Jakarta (Lampost.co) --  Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah terus menguat di tengah merebaknya pandemi virus korona (covid-19). Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan tiga faktor yang membuat mata uang Garuda tersebut perkasa dalam beberapa hari terakhir. Pertama, level rupiah rupiah saat ini masih undervalue. Kondisi ini menyebabkan mata uang Garuda tersebut berpotensi mengalami penguatan.
 
"Perkembangan ini juga menegaskan bahwa kenapa nilai tukar rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat ke arah Rp15 ribu di akhir tahun," ujar Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis, 9 April 2020.
 
Nilai rupiah yang masih undervalue dan memiliki potensi penguatan lebih lanjut terlihat dari fundamental ekonomi Indonesia. Dalam hal ini nilai tukar rupiah diukur berdasarkan tingkat inflasi, defisit transaksi berjalan alias Current Account Deficit (CAD), hingga perbedaan suku bunga di dalam dan luar negeri.

"Nilai tukar rupiah yang diukur secara fundamental menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Artinya kecenderungannya masih bisa menguat," ucap Perry.
 
Faktor kedua terkait kepercayaan investor global terhadap langkah dan kebijakan yang ditempuh pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam menangani masalah kemanusiaan dan kesehatan imbas pandemi covid-19.
 
Dalam hal ini pemerintah menggelontorkan stimulus fiskal sedangkan bank sentral melakukan kebijakan pelonggaran moneter. Sementara OJK membereskan permasalahan perbankan dengan merelaksasi kredit sehingga mampu mendukung penyaluran kredit ke sektor ekonomi.
 
"Faktor kedua ini menunjukkan investor dari pasar (keuangan global) confidence bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak ke sana (Rp15 ribu per USD di akhir 2020). Mereka confidence terhadap langkah-langkah dan kebijakan yang dilakukan," ungkap Perry.
 
Faktor terakhir terkait kondisi risiko pasar keuangan global yang mulai mereda dan berangsur-angsur membaik. Salah satu indikatornya tercermin dari penurunan Indeks Volatilitas (VIX) yang merupakan indikator volatilitas pasar keuangan, khususnya di Amerika Serikat (AS).
 
Sebelum terjadi covid-19, indeks VIX berada di posisi 18,8. Namun pada saat kepanikan di pasar keuangan global yang terjadi di pekan kedua dan ketiga Maret 2020, indeks VIX naik signifikan ke level tertinggi di 82. Saat ini, indeks VIX berada di posisi 43,3.
 
"Itu menunjukkan tingkat kepanikan di pasar keuangan global berangsur-angsur membaik. Ini karena langkah-langkah kebijakan, baik pelonggaran moneter oleh The Fed maupun stimulus fiskal di AS dan berbagai negara membuat index VIX menurun. Namun ini belum pulih dan masih relatif tinggi karena naik turun, tapi kecenderungannya itu membaik," tutup Perry.
 

Medcom







Berita Terkait



Komentar