#feature#tsunami#korban#lamsel#beritalampung

Tiga Bulan Pascatsunami, Banyak Korban Masih Trauma

( kata)
Tiga Bulan Pascatsunami, Banyak Korban Masih Trauma
Aan Surtono (32) warga Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, saat termenung didepan hunian sementara, Jum'at (22/3/2019). (Foto:Lampost/Armansyah)

KALIANDA (Lampost.co)--Tiga bulan pascatsunami yang melanda Pesisir Kabupaten Lampung Selatan, masih menyimpan trauma mendalam bagi para korban tsunami di Kecamatan Rajabasa.

Selain trauma, bencana tsunami itu juga mengakibatkan ratusan keluarga harus kehilangan sanak keluarga dan harta benda, termasuk rumah. Kini sebagian besar korban tsunami harus menempati hunian semantara (Huntara) yang dibangun Pemerintah, TNI dan Nahdlatul Ulama. 

Dari ratusan korban tsunami itu salah satunya keluarga Aan Surtono (32) warga Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa. Saat ditemui Lampost.co, bapak dua anak itu termenung di depan pintu Huntara yang ditempatinya, Jumat (22/3/2019).

Tsunami yang menerjang pada 22 Desember 2019 itu, membuat rumah Aan Surtono yang dibangun sejak puluhan tahun silam itu luluh-lantak. Bahkan, tsunami itu mengakibatkan putrinya bernama Wati Putri, masih trauma dan takut untuk berlama-lama berada di tepi pantai.

"Iya, mas anak saya yang paling kecil sekarang enggak mau lagi nginep di tempat kakeknya, karena rumah kakeknya ada di pinggir laut, anak saya lebih kerasan tinggal di Huntara terkadang denger angin kencang aja dia takut," kata dia. 

Aan mengaku tsunami itu juga mengakibatkan 3 orang keluarganya meninggal dunia. Hal itu menyebabkan kesedihan yang mendalam masih di rasakan apalagi aan mengetahui persis terjadi musibah gelombang setinggi belasan meter itu.

"Kalau di ingat-ingat saya sering sedih, karena nenek, ibuk dan bibik saya samapi meninggal dunia kibat terseret  tsunami. Rumahnya berdekatan dengan rumah kami jadi jeritan mereka saat meminta tolong sangat jelas sekali," kata dia. 

Saat ini, kata Aan Surtono, keluarganya masih mendapatkan bantuan dari Pemerintah dan para dermawan lainnya, seperti perlengakapn tidur, peralatan dapur, Kasur, selimut, dan kompor. Sedangkan, untuk persediaan pangan pun saat ini cukup, cuma penghasilan yang masih belum menentu.
"Sekarang yang kami kesulitan untuk mencari pekerjaan, sebelumnya saya sebagai nelayan namun sekarang sudah tak punya perahu untuk pergi melaut. Tinggal di huntarapun kami tidak tau harus sampai kapan karena hunian tetap kami juga tidak tau kapan mau selesai," katanya. 

Armansyah

Berita Terkait

Komentar