#penyuapan#hukum#kasusbakamla

Terpidana Kasus Bakamla Dijebloskan ke Lapas Cipinang

( kata)
Terpidana Kasus Bakamla Dijebloskan ke Lapas Cipinang
Gedung KPK. Dok. Medcom.id


Jakarta (Lampost.co) -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi terpidana suap proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla), Erwin Sya'af Arief. Dia harus menjalani hukuman 1,5 tahun penjara di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur.

"Pada Rabu, 30 September 2020 jaksa eksekusi KPK Leo Sukoto Manalu telah melaksanakan putusan peninjauan kembali (PK) No: 314/PK/Pid.Sus/2020 (yang diputus) pada (Kamis) 3 September 2020 atas nama terpidana Erwin Sya'af Arief," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2020. 

Managing Director PT Rohde and Schwarz Indonesia itu juga dikenakan pidana denda Rp50 juta. Apabila denda tidak dibayarkan, Erwin diwajibkan mengganti hukuman itu dengan 3 bulan pidana kurungan.

Erwin terbukti menyuap mantan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi. Suap itu demi memuluskan penambahan anggaran pengadaan proyek satelit monitoring dan pesawat nirawak atau drone Bakamla dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016.

Proyek itu rencananya digarap Direktur PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah. Erwin terbukti bersalah sesuai dakwaan pertama dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a juncto Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Di pengadilan tingkat pertama, Erwin divonis 2,5 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis berubah menjadi 1,5 tahun penjara di tingkat PK.

Medcom







Berita Terkait



Komentar