#taliban#afghanistan

Teroris Paling Dicari Amerika Muncul Berdampingan dengan Taliban

( kata)
Teroris Paling Dicari Amerika Muncul Berdampingan dengan Taliban
Berkaitan dengan Al-Qaeda, Khalil Haqqani menjanjikan era baru bagi Afghanistan. Foto: Twitter


Kabul (Lampost.co) -- Salah satu teroris paling dicari oleh Amerika Serikat (AS), muncul kembali di Kabul, Afghanistan ketika para pemimpin Taliban berkumpul untuk memetakan masa depan negara usai mereka berhasil merebut pemerintahan. Teroris itu bukan main-main, AS menawarkan hadiah USD5 juta atau sekitar Rp72 Miliar untuk kepalanya.

 

Sosok yang berkaitan dengan Al-Qaeda, Khalil Haqqani menjanjikan era baru bagi Afghanistan saat ia terlihat memimpin doa bagi Taliban di sebuah masjid di Ibu Kota Afghanistan pada Jumat di depan para pendukungnya yang bersorak.

Haqqani dianggap sebagai otak atas beberapa serangan teror paling mematikan di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Serangannya merenggut nyawa warga sipil, pejabat pemerintah dan pasukan asing.

Mereka telah ditetapkan sebagai kelompok teroris asing oleh Amerika Serikat - dan para pendukungnya di Taliban juga berada di bawah sanksi PBB.

Terlepas dari reputasinya, Haqqani diperkirakan menjadi pemain kuat dalam rezim baru setelah Taliban mengambil alih Afghanistan pekan lalu. Tentunya menimbulkan keraguan pada janji kelompok itu untuk tidak menampung teroris.

Menurut New York Times, Haqqani mengatakan kepada orang banyak pada hari Jumat: "Prioritas pertama kami untuk Afghanistan adalah keamanan. Jika tidak ada keamanan, tidak ada kehidupan.

"Kami akan memberikan keamanan, kemudian kami akan memberikan ekonomi, perdagangan, pendidikan untuk laki-laki dan perempuan. Tidak akan ada diskriminasi,” ujar Khalil Haqqani, dikutip dari The Sun, Senin 23 Agustus 2021.

Pemimpin kunci lainnya dari jaringan Haqqani -,Anas Haqqani,- juga berada di ibu kota pada Jumat.

Kelompok bayangan -,salah satu jaringan paling kuat di balik kebangkitan Taliban ke tampuk kekuasaan,- dibentuk oleh Jalaluddin Haqqani, yang menjadi terkenal pada 1980-an sebagai pahlawan jihad anti-Soviet.

Pada saat itu, dia adalah aset CIA yang berharga karena Amerika Serikat dan sekutunya, seperti Pakistan, menyalurkan senjata dan uang kepada mujahidin. Setelah penarikan Soviet, Jalaluddin Haqqani menjalin hubungan dekat dengan jihadis asing - termasuk Osama bin Laden.

Dia kemudian bersekutu dengan Taliban yang mengambil alih Afghanistan pada 1996, menjabat sebagai menteri untuk rezim itu sampai digulingkan oleh pasukan pimpinan AS pada 2001.

Jaringan Haqqani memiliki reputasi karena sering menggunakan pengebom bunuh diri -,termasuk pengemudi di mobil dan truk yang penuh dengan bahan peledak dalam jumlah besar,- dan telah melakukan serangan mematikan pada sasaran utama.

Menurut Pusat Kontraterorisme Nasional AS, pasukan Afghanistan mencegat sebuah truk Haqqani di Afghanistan timur pada Oktober 2013 yang berisi hampir 28 ton bahan peledak.

Haqqani juga sangat berkontribusi pada barisan pertempuran Taliban. “Mereka adalah pasukan paling siap tempur kelompok itu,” kata pemantau PBB dalam laporan Juni.

Seorang perwira intelijen Inggris mengatakan kepada VOA: "Fakta bahwa kita memiliki Khalil al-Rahman Haqqani yang bertanggung jawab atas keamanan Kabul sangat mencemaskan”.

"Haqqani dan Al-Qaeda memiliki sejarah panjang bersama, Anda bisa berargumen bahwa mereka saling terkait, dan sangat tidak mungkin mereka akan memutuskan hubungan,” imbuhnya.

Dan pensiunan diplomat Ivor Roberts mengatakan menempatkan jaringan Haqqani sebagai penanggung jawab keamanan adalah seperti "rubah yang bertanggung jawab atas kandang ayam".

Khawatir akan teror

Munculnya Khalil Haqqani terjadi ketika para ahli keamanan memperingatkan Inggris menghadapi bahaya "segera" dari serangan teror pada skala yang sama dengan 9/11 setelah Taliban menguasai Afganistan.

Petugas kontra teror Inggris merasa pengambilalihan itu bisa memberikan al-Qaeda kembali "ruang tak terkendali" di mana Bin Laden merencanakan.

Mantan bos MI5 Lord Jonathan Evans mengatakan kepada The Mirror: "Jika mereka mendapat kesempatan untuk meletakkan infrastruktur untuk berlatih dan beroperasi maka itu akan menjadi ancaman bagi Barat”.

"Ada juga efek psikologis dari inspirasi yang akan diambil beberapa orang dari kegagalan kekuatan Barat di Afghanistan,” ujar Evans.

"Dalam istilah praktis dan dalam hal ruang yang tidak diatur, tetapi juga dalam istilah psikologis, itu mungkin berarti peningkatan ancaman selama beberapa bulan dan tahun mendatang,” tambahnya.

Kolonel Richard Kemp, mantan komandan pasukan Inggris di Afghanistan mengatakan: "Ada kemungkinan gaya 9/11 yang spektakuler, di gedung-gedung pemerintah, lapangan olahraga, target utama."

"Jika mereka tidak bisa mendapatkan AS, Inggris tetap menjadi target besar. Kebebasan di Afghanistan, seperti yang telah kita lihat dengan 9/11, akan memberi mereka waktu dan bantuan untuk merencanakan serangan semacam itu,” Kemp menambahkan.

Setelah enam hari pengambilalihan Taliban atas Afghanistan, ribuan orang masih berebut meninggalkan negara itu melalui evakuasi kacau yang dijuluki salah satu pengangkutan udara paling sulit dalam sejarah.

Winarko







Berita Terkait



Komentar