#penemuanmayat#beritalampung#beritalamtim

Terlilit Utang Jadi Alasan Pelaku Bunuh dan Buang Mayat Teman di Sumur Tua

( kata)
Terlilit Utang Jadi Alasan Pelaku Bunuh dan Buang Mayat Teman di Sumur Tua
Tersangka SS saat diwawancarai di Mapolres Lamtim, Senin (13/7/2020). Lampost.co/Djoni Hartawan Jaya

Sukadana (Lampost.co): SS (40), pelaku pembunuhan Agus alias Gepeng (35), warga Desa Cempaka Nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lamtim yang mayatnya ditemukan warga di dalam sumur tua, mengaku melakukan pembunuhan karena alasan memiliki utang.

“Saya kebingungan mau bayar utang enggak punya uang. Akhirnya saya merencanakan menghabisi nyawa teman saya Agus untuk mengambil sepeda motor dan harta benda miliknya,” kata SS kepada Lampost.co di Mapolres Lamtim, Senin, 13 Juli 2020.

SS yang merupakan warga Kecamatan Batanghari Nuban itu dengan ekspresi wajah biasa seperti tanpa merasa bersalah kemudian bercerita, beberapa bulan terakhir dia terlilit utang sebesar Rp20 juta pada sebuah bank, koperasi, dan pihak lain.

Baca juga: Warga Pekalongan Gempar Temukan Mayat di Dalam Sumur

Untuk melunasi utang tersebut SS sudah berusaha bekerja di Pekanbaru, Riau. Kemudian berusaha menjual rumah tapi sampai saat ini belum juga laku. 

“Saya sudah berusaha kerja di Pekanbaru terus berusaha menjual rumah untuk melunasi utang-utang saya, tetapi belum juga kebayar utangnya,” kata laki-laki yang telah ditinggal kabur istrinya sekitar setahun terakhir.

Bingung tak memiliki uang untuk membayar utang, SS kemudian pada Rabu (1 Juli 2020) mengajak rekannya WS (21), warga Kecamatan Pekalongan untuk melakukan aksi pembegalan di seputaran wilayah Kecamatan Pekalongan. Namun, setelah mengintai korban beberapa lama, aksi  tersebut urung dilakukan karena bingung dalam memilih korban untuk dibegal.

Urung melakukan pembegalan, SS kemudian memutar otak dan selanjutnya menghubungi rekannya Agus Sutrisno, warga Desa Cempaka Nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, untuk diajak minum minuman keras di wilayah Kota Metro, pada Rabu (1 Juli 2020), malam.

Baca juga: Kasus Mayat Dalam Sumur, Dua Pelaku Ditangkap di Riau

“Saya bilang sama Agus, di lokasi minum-minum tersebut sudah ada cewek yang menunggu. Agus kemudian mau dan datang ke Metro,” kata laki-laki yang bertubuh kecil yang telah memiliki dua orang anak tersebut.

Saat menghubungi Agus, dalam benak SS sudah memiliki rencana bersama WS untuk menghabisi rekannya tersebut dan mengambil harta bendanya. Di wilayah Kota Metro SS, WS, dan Agus serta ditemani seorang wanita minum-minum bersama. Beberapa saat setelah minum-minum tersebut, SS dan WS kemudian mengajak Agus bergeser ke sebuah kafe di Kota Metro.

Beberapa saat berada di kafe tersebut, atau tepatnya pada Kamis (2 Juli 2020) sekitar pukul 02.00 WIB, SS mengajak korban Agus untuk pulang. Selanjutnya dengan menggunakan sepeda motor korban, mereka bertiga pulang menuju arah Kecamatan Batanghari Nuban.

“Waktu pulang naik motor bertiga itu saya yang bawa motor, Agus duduk ditengah dan WS duduk dibelakang,” kata SS dengan mimik wajah tenang.

Kemudian saat tiba di ruas jalan diujung Desa Jojog, Kecamatan Pekalongan yang berbatasan dengan Desa Gedungdalem, Kecamatan Batanghari Nuban, SS menghentikan laju sepeda motor tersebut.

 

Setelah sepeda motor berhenti sesuai dengan rencana WS yang duduk dibelakang dengan menggunakan lengannya langsung mencekik leher Agus. Sementara SS dengan tangan kosong kemudian memukul kepala dan menendang dada korban.

Dianiaya sedemikian rupa akhirnya Agus tak berdaya dan akhirnya tubuhnya lemah lunglai. Melihat tubuh korbannya sudah lemah kemudian SS dan WS membawa tubuh korban ke lokasi Bendungan Garongan atau Dam Swadaya. 

Di lokasi tersebut mereka mendapati ada sumur tua yang sudah tak terpakai lagi dan disitulah tempat untuk membuang tubuh Agus. Namun, sebelum dimasukkan ke dalam sumur SS memastikan korbannya tewas terlebih dahulu dengan menginjak-injak dadanya.

“Setelah dipastikan Agus meninggal dunia maka mayatnya langsung kami masukkan ke dalam sumur tua itu,” kata SS.

Usai melakukan perbuatan keji tersebut, SS kemudian mengambil ponsel korban dan pulang ke Batanghari Nuban. Sementara WS yang membawa dompet korban kembali ke rumahnya di Kecamatan Pekalongan.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar