#Kesehhatan#KoronaVirus

Terimbas Covidd-19, Penjualan Kopi Petik Merah Anjlok

( kata)
Terimbas Covidd-19, Penjualan Kopi Petik Merah Anjlok
Subagio, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi. (Yudhi Hardiyanto/Lampost.co)

Kotabumi (Lampost.co) – Pengusaha kopi petik merah di Lampung Utara mengaku usahanya terimbas pandemi covid-19. Omset penjualan kopi anjlok hingga turun mencapai 60 persen dari biasanya.

"Sudah seminggu terakhir saya tidak giling kopi. Sejak ada wabah virus korona, omzet penjualan kopi turun drastis sampai 60 persen" ujar Subagio, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abung Tinggi, di kediamannya, Kamis, 26 Maret 2020.

Untuk produksi kopi petik merah yang di ambil dari petani binaannya, terbagi menjadi tiga produk, yakni; green bean dengan kadar air 12 persen s/d 13 persen di jual Rp30 ribu/kg, roasting (biji siap bubuk) seharga Rp80 ribu/kilo dan kopi bubuk merek "EsDe Coffe" dengan berat 250 gram dia jual Rp25 ribu/bungkus.

"Pemasaran kopi yang di produksi saat ini lebih banyak dijual ke kafe-kafe yang berada di wilayah Bandar Lampung, Jakarta, Bogor hingga Aceh" kata dia.

Sebulan, omzet rata-rata penjualan kopi berkisar 1 kwintal s/d 1,25 kwintal untuk kopi bubuk, roasting sebanyak 15 kg dan green bean sebanyak 1 kwintal. Namun, sejak ada wabah virus korona, omzet penjualan kopi pada Maret 2020 ini telah anjlok sampai 60 persen.

"Sejak korona merebak di Indonesia, penjualan kopi saya turun drastis sebab, konsumen saya terbesar dari kafe-kafe yang terbesar di Indonesia," kata dia.

Dia berharap, wabah ini segera berhenti. Karena bagi petani kopi Desa Sidokayo, seduhan kopi yang dinikmati itu bukan sebatas cita rasa, di tiap butirnya ada harapan untuk nafkah penghidupan hari esok yang lebih baik.

"Semoga wabah virus korona ini segera berakhir, berbicara kopi bukan hanya masalah rasa tapi juga penghidupan untuk keluarga serta kelompok tani binaanya" tuturnya lirih.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar