#narkoba#ganja#sabu

Terdakwa Tak Bisa Hadir, Sidang Pledoi Pengendali Puluhan Kg Sabu Ditunda

( kata)
Terdakwa Tak Bisa Hadir, Sidang Pledoi Pengendali Puluhan Kg Sabu Ditunda
Sidang kasus peredaran ratusan kilogram sabu dengan terdakwa narapidana Lapas Kelas I Surabaya, M Sulton, Nanang Zakaria (29), dan M. Razif Hazif (24), kembali digelar di PN Kelas IA Tanjungkarang, Selasa, 17 Mei 2022. Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang kasus peredaran ratusan kilogram sabu dengan terdakwa narapidana Lapas Kelas I Surabaya, M Sulton, Nanang Zakaria (29), dan M. Razif Hazif (24), kembali digelar di PN Kelas IA Tanjungkarang, Selasa, 17 Mei 2022.


Pada sidang sebelumnya, M Sulton dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) Roosman Yusa. Sedangkan dua terdakwa lain, Razif dan Nanang dituntut seumur hidup.

Jalannya sidang, kuasa hukum M Sulton Agus Purwono meminta sidang pembacaan pleodi ditunda. Alasannya, karena terdawka tidak bisa dihadirkan secara langsung di persidangan (Offline).

"Terdakwa ingin membacakan secara langsung pledoinya di depan yang mulia majelis hakim, terdakwa dituntut mati," ujar kuasa hukum.

Sementara JPU Roosman Yusa mengaku sudah berkoordinasi dengan LP Kelas IIA Narkotika agar Sulton dihadirkan, namum tetap tak bisa dihadirkan.

"Sudah koordinasi dengan rutan, tapi belum diizinkan," katanya.

Ketua Majelis Hakim Jhony Butar-Butar mengingatkan JPU agar bisa menghadirkan M Sulton secara langsung pada sidang 24 Mei 2022 mendatang.

"Nanti seandainya tak bisa, harus ada bukti tertulis tak bisa dihadirkannya," kata Jhony.

Sementara, Nanang dan Razif tetap membacakan pledoi yang diwakili kuasa hukumnya Chandra Fery Irawan. Dalam pleodinya terdakwa meminta dihukum seringan-ringannya.

"Barang tersebut juga bukan milik terdakwa tapi milik Soyfan yang berstatus DPO," paparnya.

Perbuatan ketiganya bermula saat M Sulton yang merupakan narapidana, mendapatkan perintah untuk mengendalikan peredaran sabu dalam jumlah besar oleh seseorang berinisial J yang berstatus DPO.

Pada Februari 2021, Sulton memerintahkan Nanang dan S (DPO) untuk mencari indekos. Kemudian Nanang dan S diperintahkan mengambil sabu seberat sekitar 80 kg di Tanjung Balai. Kemudian, sabu tersebut di kemas di indekos menjadi empat box.

Selanjutnya, Nanang dan S berangkat ke Bandar Lampung empat box berisi sabu tersebut dititipkan di Loket Bus Pelangi Putra. Narkoba itu pun dibawa Nanang ke Cilegon, Banten.

Kemudia Nanang pergi ke taman Kota Cilegon membawa tiga box berisi sekitar 60 kg sabu untuk diberikan ke beberapa orang atas perintah M Sulton. Atas upaya tersebut, Nanang diupah Rp600 juta oleh M Sulton.

Sekitar Maret 2021, Sulton kembali memerintahkan Nanang ke Medan, Sumatera Utara untuk mengambil empat karung berisi 60 kg sabu, serta satu bungkus besar ekstasi. Semuanya kembali dikemas oleh Nanang, menjadi empat box.

Lalu Nanang membawa empat box tersebut ke Pul Bus Putra Pelangi, sedangkan ia mengendarai mobil Suzuki Swift seorang diri menuju Bandar Lampung. Terdakwa Razif pun juga menuju Bandar Lampung.

Keduanya menyewa kosan di Rajabasa. Setibanya di Lampung, M Sulton memerintahkan Razif dan Nanang membawa puluhan kg sabu ke Cilegon dan Surabaya selama beberapa kali, sehingga barang tersebut berhasil terhantar.

Pada awal September 2021, Nanang dan Razif kembali diperintahkan mengambil sabu ke Tanjungbalai, yakni enam karung berisi 92 kg Sabu. Keduanya mengemas sabu tersebut ke dalam box dan disamarkan juga dengan semen.

Kemudian, keduanya menuju Bandar Lampung, box berisi narkoba dititipkan via bus, dan mereka kembali mencari indekos. Ketika hendak mengambil 92 kg sabu ke pul bus di Bandar Lampung keduanya ditangkap Ditresnarkoba Polda Lampung. Tak berselang lama, Sulton juga ditangkap oleh Polda di LP Surabaya.

Diketahui, Sulton telah berhasil mengirimkan 140 kg sabu ke pemesan, sedangkan upaya ketiganya mengedarkan 92 kg sabu berhasil digagalkan.

Winarko








Berita Terkait



Komentar