#perdaganganmanusia#perlindungananak

Terdakwa Perdagangan Manusia Dituntut 14 Bulan

( kata)
Terdakwa Perdagangan Manusia Dituntut 14 Bulan
Pekerja migran ilegal. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Lulis Widianingrum (31), warga Ponorogo, Jawa Timur dan Srilihai Puji Astuti (48), warga Jawa Tengah, dituntut satu tahun dan dua bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa, 23 Agustus 2022.

Jaksa Amrullah menilai keduanya terbukti melanggar Pasal 83 Jo Pasal 68 UU RI Nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Jo. Pasal 55 Ayat (1) KUHP Jo. Pasal 53 Ayat (1) KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama satu tahun dan dua bulan penjara," bunyi amar tuntutan yang dilihat Lampost.co, Rabu, 24 Agustus 2022.

Para terdakwa juga dituntut membayar restitusi terhadap enam korban dengan rincian, Rina Fitriyani Rp6.090.000, Tri Agustini Rp6.674.500, Siti Khodijah Rp10.873.500, Supriyatin Rp2.107.871, Eka Santika Rp8.170.180, dan Reni Pupita Rp7.093.820. Apabila restitusi tak dibayar diganti dengan pidana kurungan tiga bulan.

Hal yang memberatkan atas tuntutan tersebut, yakni perbuatan keduanya merusak citra negara. Sedangkan, hal yang meringankan terdakwa mengaku salah, tidak akan mengulangi lagi, dan menyesali perbuatannya, serta belum pernah dihukum.

Jaksa menjelaskan perbuatan itu bermula pada Januari 2021 saat Srilihai yang berstatus PNS Puskesmas Punggur, Lampung Tengah, berencana merekrut pekerja migran. 

Dia pun menghubungi Lulis, Kepala Cabang PT. Bhakti Persada Jaya, Ponorogo. Dia pun mengaku sebagai sponsor atau perekrut pekerja migran di Lampung.

Keduanya sepakat mengirimkan pekerja karena dihubungi pihak agensi di Singapura. Namun, keduanya hanya bisa mengirimkan pekerja lewat mekanisme non prosedural alias ilegal.

Lulis memberikan biaya transportasi dan pengurusan pasport Rp5 juta per orang ke Srilihai jika berhasil diberangkat ke Singapura sebagai pembantu dengan gaji 550 sampai 635 dolar singapura.

Ternyata Lulis membuatkan surat tugas perekrutan untuk Srilihai tanpa sepengetahuan direktur utama perusahaan dan memosting di sosial media dan menawarkan dari rumah ke rumah, rekrutmen pekerja migran ke Singapura. 

 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar