#Pencabulan

Terdakwa Pencabulan Anak di Bawah Umur Dituntut 2,6 Tahun Penjara

( kata)
Terdakwa Pencabulan Anak di Bawah Umur Dituntut 2,6 Tahun Penjara
Rifki dan Elmi kholiya, penasehat hukum terdakwa kasus pencabulan anak di bawah umur. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa berinisial RF (15) warga Rajabasa dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan penjara lantaran melakukan tindak pidana pencabulan terhadap P (15).

JPU Tribuana Mardasari mengatakan perbuatan terdakwa dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk korban P melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Menurut jaksa perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana Pasal 81 ayat (2) UU RI No 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu No.01 tahun 2016 tentang perubahan kedua Nomor 32 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa RF dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan penjara dengan perintah tetap berada dalam tahanan," kata Jaksa, Senin, 28 Desember 2020.

Jaksa menjelaskan perbuatan terdakwa berawal pada 28 November 2020 sekitar pukul 01.00 WIB. Korban saat itu hendak pergi dari rumah lalu menghubungi terdakwa untuk menjemput.

"Terdakwa menjemput korban kemudian membawanya ke Masjid Islamic Center Rajabasa untuk beristirahat," kata jaksa.

Pada pukul 15.00 WIB terdakwa membawa korban ke salah satu bengkel milik kawannya di Jalan Kapten Abdul Haq. Di sana terdakwa meminta izin untuk menginapkan korban. 

Pada pukul 05.00 WIB terdakwa melakukan pencabulan terhadap korban dan di hari selanjutnya terdakwa melakukan hal yang sama.

Berdasarkan hasil visum et repertum nomor:  357/ VII.01/2.1/IXX/2020 tanggal 10 Desember 2020 ditemukan luka robek lama pada selaput darah akibat kekerasan. Pada kekerasan fisik ditemukan luka memar di bagian leher kanan, leher kiri, dan dada.

" Uji kehamilan dengan hasil negatif atau tidak hamil," ujar JPU.

Kuasa hukum terdakwa Rifki dan Elmi kholiyah ditemui menjelasakan bahwa terdakwa sempat menyuruh korban yang merupakan pacarnya untuk pulang ke rumah tetapi tidak mau.

Bahkan, kata Rifki, hakim beberapa kali mempertanyakan kepada korban apakah dalam kejadian itu ada paksaan dari terdakwa. Korban pun menjawab tidak ada paksaan yang dilakukan. 

"Bisa dibilang mereka ini melakukan atas dasar suka sama suka. Korban pun sempat disuruh pulang ke rumah oleh terdakwa tetapi dia tidak mau," kata Rifki

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar