#tumbai#paminggir#orangabung

Terbentuknya Suku Baru Usai Pindahnya Warga Paminggir

( kata)
Terbentuknya Suku Baru Usai Pindahnya Warga Paminggir
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

MASYARAKAT Paminggir berpindah dari pangkalannya di Kore menuju dataran tinggi Balikbukit. Di sana mereka mendirikan empat suku yang kemudian berkembang cepat menjadi sangat banyak.

Ini tidak berlangsung lama, kemudian kelompok kecil yang dipisahkan oleh keempat marga lama Paminggir mendesak dari dataran tinggi di bagian tenggara Danau Ranau melewati dataran rendah Semaka yang terbentang, yang kemudian bertemu di Gunung Tanggamus di pesisir pantai. Di sini dibentuk marga baru, kemudian menduduki seluruh wilayah pantai Teluk dan semenanjung Rajabasa.

Namun, kekuatan rakyat kelompok pusat Paminggir lama di dataran tinggi Kenali itu masih tersisa. Dalam waktu bersamaan dengan perpindahan ke selatan, ke dataran Semaka—atau sesaat setelahnya—sebuah kelompok baru pengelana dari keempat marga suku berpisah dan menuju pegunungan timur.

Tidak dapat dijelaskan apakah perpindahan dengan peperangan melawan orang Abung tersebut memiliki keterkaitan. Baik cerita maupun sumber lainnya tidak memberikan informasi mengenai penyebab atas pindahnya ke pegunungan timur. Sebaliknya, perpindahan ke selatan, ke Semaka dapat lebih mudah dijelaskan.

Sebagian penduduk bergerak menuju gerbang lembah terus menuju dataran selatan. Pegunungan di wilayah timur Kenali sangat sulit dijangkau dan dilalui. Begitu pula kini hanya terdapat satu-satunya jalan setapak yang terhambat seringnya melewati hutan belantara melalui jalur Giham di Kenali setinggi 110 meter ke arah timur menuju lembah Way Besai.

Kemungkinan Paminggir di Kenali telah mengenali dataran tinggi dan lembah di wilayah timur akibat peperangan karena mereka terlibat dalam waktu yang lama dengan orang Abung.

Antara 1350 dan 1400 Masehi tentu suatu kelompok penduduk yang berasal dari dataran tinggi memasuki daerah-daerah lembah timur. Kelompok itu menuju ke timur melewati jalan yang sama seperti yang dulu dilalui leluhur suku Abung dari dataran tinggi dan juga mencapai lembah raksasa Way Besai atas dan Way Pitai. Tidak dapat dijelaskan apakah di sini terjadi peperangan atau orang Abung yang menghuni tempat itu sebelumnya telah melarikan diri.

Efek dari perpindahan ke tempat perlindungan orang Abung tersebit merupakan pekerjaan penuh dari pegunungan timur melalui bangsa ini. Satu-satunya bukti informatif dari perpindahan suku Paminggir pegunungan adalah kompleks megalitik di Kebuntebu.

Di komplek tersebut, seluruh monumen batu baik yang telah terguling, kurang lebih rusak, maupun sepenuhnya hancur. Suku musuh yang memasuki wilayah tersebut yang melakukan perusakan itu. Kompleks nomor 5 kini hanya terdiri atas reruntuhan megalit dahulu yang materialnya terdiri atas kalksandstein dan basalt.

Tidak ditemukan lagi perumahan orang Abung di Way Pitai, seperti halnya di semua wilayah lainnya di pegunungan, tempat dulunya mereka diusir. Rumah-rumah yang dibangun pada zaman modern oleh orang Abung memiliki daya tahan hingga beberapa generasi. Tiang rumah-rumah itu dipasang di atas landasan batu kecil.

Adapun semua rumah lainnya telah hilang tanpa jejak selepas ditinggalkan pemiliknya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bahwa di luar megalit di Kebuntebu di pegunungan timur tidak dapat dijumpai lagi bekas-bekas orang Abung lama.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar