koronanasional

Terapkan Protokol Kesehatan di Area Pasar

( kata)
Terapkan Protokol Kesehatan di Area Pasar
ANTARA FOTO/Makna Zaezar Petugas medis melakukan tes diagnostik cepat (rapid test) covid-19 di Pasar Kahayan, Kalimantan Tengah, kemarin.

Jakarta (Lampost.co) -- Pasar merupakan salah satu tempat utama penularan virus korona baru (covid-19). Karena itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Korona Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) akan membuat pasar percontohan yang menerapkan protokol kesehatan.

Gagasan itu disampaikan Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Korona Kalsel, Abdul Haris Makkie, di sela rapat evaluasi PSBB dan penanganan covid-19 di Banjarmasin, kemarin.

“Kita akan membuat pasar percontohan yang menerapkan protokol kesehatan. Kita tahu penyebaran virus korona tertinggi terjadi di area pasar,” ungkapnya.

Menurut Haris, pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Banjarmasin terkait penetapan pasar percontohan. Namun, secara keseluruhan gugus tugas akan melakukan sterilisasi kawasan pasar dengan penyemprotan disinfektan secara berkala dan penyediaan APD bagi petugas pasar.

“Kita tidak ingin muncul klaster baru atau semakin meningkatnya jumlah warga yang terpapar virus korona. Karena itu, nantinya pasar percontohan akan dilengkapi sarana memadai sesuai protokol kesehatan, seperti penggunaan masker dan pelindung wajah, tempat cuci tangan, dan hand sanitizer,” ujarnya.

Di sisi lain, puluhan warga di beberapa daerah di Jawa Tengah terpapar covid-19 di area pasar. Dalam merespons hal itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memerintahkan para bupati dan wali kota menutup pasar tradisional dan pusat perbelanjaan modern.

Seperti diketahui, kasus pene­muan puluhan warga yang terpa­par covid-19 saat menjelang Lebaran lalu hingga kini masih menjadi sorotan. Hal itu antara lain ditemukan di Pasar Ikan Kobong Kota Semarang.

Berdasarkan penyisiran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di pasar itu, hasil rapid test terhadap 21 orang dinyatakan reaktif. Hal yang sama juga ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Kendal, yaitu hasil rapid test 13 orang di Pasar Boja reaktif, 2 orang di Pasar Sukorejo reaktif, 4 orang di Pasar Weleri reaktif, dan 4 orang di Pasar Pegandon reaktif.

Sejauh ini, meski beberapa dae­rah telah mengambil langkah tegas dengan menutup pasar tradisional, masih ada daerah lain yang tak acuh dan membiarkan pasar tetap beroperasi tanpa menerapkan protokol kesehatan.

Langkah antisipasi

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kembali mengumumkan penambahan 20 kasus yang terkonfirmasi positif covid-19 pada Senin, 25 Mei 2020.

Dengan begitu, secara kumulatif saat ini terdapat 40 orang yang terkonfirmasi positif covid-19 di kabupaten itu.

Penambahan kasus baru tersebut berasal dari sejumlah klaster pasar tradisional di tiga kabupaten, yakni Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro.

“Dari hasil swab test yang dikeluarkan Institute of Tropical Desease Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya, ada penambahan konfirmasi positif yang didominasi klaster Pasar Banjarejo Bojonegoro, klaster Pasar Bongkaran, dan klaster Tambakboyo,” jelas Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tuban, Endah Nurul Komariyati.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa menutup secara total operasional pertokoan nonpangan mulai kemarin hingga Jumat (29/5). Hal itu dilakukan sebagai bentuk peningkatan kewaspadaan terhadap risiko penularan covid-19 yang saat ini trennya justru terus meningkat.

Di Kabupaten Cimahi, Jawa Barat, pemerintah kota setempat menggencarkan penyemprotan disinfektan di sejumlah kawasan protokol setelah ditemukan dua pedagang pasar terkonfirmasi positif covid-19. Titik awal penyemprotan dilakukan di depan Pasar Antri di Jalan Sriwijaya dan ber­akhir di Jalan Gatot Subroto. 

Media Indonesia



Berita Terkait



Komentar