#tempe#makananberproteintinggi

Tempe, Super-food untuk Generasi Hebat

( kata)
Tempe, Super-<i>food</i> untuk Generasi Hebat
Tangkapan layar presentasi ahli kedelai dari IPB Rimbawan saat Webinar bertajuk Menebar Kebaikan melalui Tulisan, Senin, 21 September 2020. Dok.


SYAFRUDIN bergegas membawa tampah anyaman bambu dari halaman rumahnya menuju dapur, Selasa, 22 September 2020. Terik mentari dengan cepat mengeringkan keripik tempe yang telah dibuatnya sedari subuh.

Bulatan tipis berwarna cokelat dengan diameter 3 cm itu dijemur sekitar 4 jam hingga kering sempurna. Pria 54 tahun itu sudah bertahun-tahun memproduksi keripik tempe di rumahnya. "Rasa keripik tempe ini gurih, kayak untungnya yang juga gurih," ujar Syafrudin. 

Ia memproduksi keripik tempe siap goreng setiap dua hari. Dalam seminggu ia menghasilkan 50 kg. Keripik itu dipasarkan ke pedagang di Pasar Natar, Lampung Selatan. "Jualan keripik tempe mudah, banyak pedagang yang mau. Pembelinya banyak karena hampir semua orang suka tempe untuk lauk atau camilan," ujarnya.

Ahli gizi dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, Sutrio, menyebut tempe sebagai super-food. Makanan olahan dari kedelai itu kaya nutrisi yang baik bagi semua kalangan. Dalam 100 gram tempe mengadung protein 20 gram, lebih banyak ketimbang daging yang hanya 18 gram. Ada pula serat 3 gram, karbohidrat 13 gram. "Tempe itu satu-satunya sumber vitamin B12 dari nabati," ujar dia.

Bahkan, kata Sutrio, tempe mengandung kalsium setara susu. Dengan segudang kebaikan tempe, ia merekomendasikan tempe masuk daftar menu keluarga. Tidak perlu makanan mahal agar anak tumbuh sehat. Tempe bisa memberi asupan nutrisi yang cukup. "Bagi yang sedang diet hingga ibu hamil, amat baik mengonsumsi tempe," kata dia.

Tempe cocok menjadi makanan pengganti lauk hewani yang cenderung tinggi lemak dan kolesterol. Penganan tersebut juga baik untuk dijadikan makanan pendamping ASI.

Sutrio mengimbau masyarakat mengonsumsi tempe lebih banyak di era pandemi. Tujuannya, mencukupi kebutuhan nutrisi sehingga imunitas tubuh lebih baik dan tidak mudah terserang penyakit, termasuk Covid-19. 

"Nutrisi adalah fondasi. Semua orang bisa beli tempe karena harganya murah. Oleh karena itu, mari kita budayakan makan tempe untuk generasi penerus yang lebih kuat dan berdaya saing," ujarnya.

Menuju UNESCO    

Ahli kedelai, Rimbawan, mengatakan untuk mendapatkan nutrisi optimal, pengolahan tempe harus dilakukan secara tepat. Pengolahan terbaik adalah dengan dikukus. Pengukusan hanya akan mengurangi 13% protein. Sementara tempe yang digoreng akan kehilangan 40% hingga 60% protein.

"Ayo gemar makan tempe, makanan asli Indonesia," ujar ahli gizi dari IPB itu, saat Webinar PT Amerta Indah Otsuka bertema Menebar kebaikan melalui tulisan, Senin, 21 September 2020.

Dia menjelaskan saat ini pemerintah sedang mengajukan tempe untuk didaftarkan sebagai warisan tak benda ke UNESCO. 

Berdasar sejarah, tempe diketahui sebagai bahan pangan yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Seperti halnya batik yang sudah diakui dunia, ia optimistis tempe segera mendapat pengakuan internasional sebagai produk asli Nusantara.

Sudarmadi Widodo, selaku perwakilan PT Amerta Indah Otsuka, mengatakan Jepang sebagai konsumen kedelai terbesar di dunia. "Orang Jepang berumur panjang karena rutin makan kedelai," ujarnya. 

Ia mendorong pelaku industri lebih banyak memanfaatkan kedelai. Dengan banyaknya konsumsi kedelai, harga komoditas tersebut akan naik. Dengan demikian, kesejahteraan petani otomatis terdongkrak. “Ekosistem itulah yang ingin dibangun agar semua kalangan mendapat kebaikan dari kedelai," kata Sudarmadi.

Menggelorakan Optimisme

Dalam webinar tersebut, jurnalis senior, Andi F Noya, mengajak awak media untuk berkontribusi secara nyata dalam membangun optimisme masyarakat. "Jangan larut dalam situasi pandemi yang sulit saat ini. Para jurnalis harus meyakini ada rencana indah Tuhan dalam profesi itu. Salah satunya membangkitkan optimisme masyarakat melalui karya jurnalistik yang dihasilkan," kata Andi.

Dengan kemampuan menyusun berita dan jejaring narasumber yang luas, jurnalis ditantang inspiratif. Profesi jurnalis bukan sekadar menulis, melainkan menjadi agen perubahan dan sumber kebaikan. 

"Banyak perspektif yang bisa dipilih dalam menyajikan berita. Pilihlah sudut pandang yang membangun optimisme. Ada kepuasan batin saat berita yang kita buat berdampak positif bagi masyarakat secara luas," ujarnya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar