#tumbai#menhir#orangabung

Teka-Teki Pengerjaan Menhir

( kata)
Teka-Teki Pengerjaan Menhir
(Foto:Dok.Pixabay)

DI Kebuntebu terdapat delapan menhir yang dikerjakan dengan kehati-hatian dan diletakkan terpisah di barat laut. Batu ujung atas makam di Pekurun itu mengarah ke barat laut. Batu ujung atas pada makam-makam bukit Tjangok di makam Unji dan yang di makam wanita di gunung Abung Tikkit juga menghadap ke utara-utara barat.

Maka dapat diketahui pasti hubungan antara penempatan megalit di Sekala Bkhak dan garis edar yang tetap hampir konstan beberapa derajat di ekuator. Namun, tidak terdapat sudut pandang untuk menaksir hubungan yang lebih dekat antara jalan dengan menhir-menhir di pinggir dan sistem matahari. Begitu pula kurangnya seluruh pola budaya orang Abung pada zaman dahulu dan modern terhadap hubungan serupa.

Di dekat kompleks batu dan objek tunggal tidak ditemukan tumpukan batu yang patut diperhatikan. Seluruh pegunungan adalah bukit tempat monumen batu dapat dijumpai yang ditutupi hutan belantara lebat yang tertutup oleh tebalnya lapisan tumbuh-tumbuhan. Hanya lembah sungai dalam yang menyingkap bebatuan. Dasar sungai-sungai tersebut hampir tertutup bebatuan yang sering memiliki ukuran luar biasa besarnya. Dipastikan material megalit diambil dari tempat ini.

Pengerjaan menhir-menhir itu masih menjadi teka-teki. Menhir yang berbentuk sederhana hanya tampak dikerjakan bagian atasnya. Penghalusan hanya dibatasi pada bagian permukaan atas. Begitu pula batu ubin besar hanya tampak sedikit dikerjakan untuk dibentuk.

Yang meragukan adalah pengerjaan menhir yang berbentuk beraturan dan indah dari batu basal. Jenis batu yang sangat keras ini dipilih untuk dibuat menjadi batu berbentuk indah. Terutama pengerjaan pada obelisk dari basal setinggi tiga meter yang dipandang sebagai hasil yang luar biasa.

Perkakas teknis orang Abung sekarang di dataran rendah timur tidak memberikan petunjuk atas metode yang dulu digunakan. Juga perlu dipertimbangkan bahwa batu tersebut tidak lagi berarti bagi orang Abung sejak persebaran di wilayah dataran rendah, sungai.

Dataran yang tak bergunung dan berbatu terbentang tanpa batas, dahulu ditutupi hutan tropis lebat, kini sebagian besar tertutup alang-alang. Di dataran rendah ini tentu tidak terdapat material untuk menyusun megalit. Sehingga tidak dapat dijelaskan lagi perkakas apa yang digunakan orang Abung dulu untuk menciptakan menhir yang indah.

Sementara untuk pengangkutan bahan mentah atau batu yang telah menjadi menhir dilakukan orang Angami-Naga dari Kohima dengan cara memecah batu selebar 0,6 hingga 1 meter dan panjang dua meter dan diletakkan pada sisi panjangnya. Para kaum pria yang ikut mengerjakan tidak boleh makan apa pun di hari yang sama. Karenanya pekerjaan itu baru dimulai saat matahari terbenam.

Batu yang memiliki berat 1,5 ton kemudian di balik ke samping pada ikatan yang telah disiapkan sehingga batu terletak mendatar di atas ikatannya. Lalu, pada ikatan itu dililitkan berbagai tanaman menjalar karena seluruhnya akan tertarik. Setidaknya pekerjaan ini melibatkan 200 laki-laki.

Setelah tiba di lokasi penataan, menhir diangkat pada bagian atasnya secara perlahan dengan pasak kayu. Pada sekeliling bagian atasnya dililitkan tanaman menjalar dengan sangat kuat. Kemudian perlahan menhir diangkat pada sisi tumpuannya dan dimasukkan ke lekukan dengan topangannya. Sejumlah laki-laki memegang kuat bagian atas batu itu dengan tangan, sedangkan yang lain menurunkan kaki ke dalam lekukan di sekitar tempat tumpuan batu. Menurut penjelasan orang Angami-Naga, menhir tersebut mendapat makanan berupa nasi sebelum diangkut. Pada tempat yang baru diberi cairan dengan daun pisang—kemudian minuman—yaitu pada tumpuan batunya. Pada ujung setiap menhir diberi sedikit darah kerbau muda.

Tulisan ini menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar