#jasakawal#preman#jembatanambrol#sopir#beritalampung

Tawarkan Jasa Kawalan, Preman Mesuji 'Tege' Uang dari Sopir Truk

( kata)
Tawarkan Jasa Kawalan, Preman Mesuji 'Tege' Uang dari Sopir Truk
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

KALIANDA (Lampost.co) -- Putusnya jembatan penghubung di perbatasan Provinsi Lampung dengan Provinsi Sumatera Selatan di jalan lintas timur (Jalintim) Pematang Panggang, Kabupaten Mesuji, Lampung pertengahan Juni 2019, menjadi duka para sopir truk angkutan barang. 

Para awak truk angkutan barang tujuan Bandar Lampung maupun Jakarta itu mengaku membutuhkan biaya untuk pungutan liar sebesar Rp300 ribu hingga Rp 500 ribu lebih untuk lepas dari jembatan putus tersebut. 

Sejumlah sopir tronton yang sedang beristirahat di rumah makan Sino Ajo jalinpantim Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyebutkan modus para preman jalanan itu memberikan jasa kepada para sopir truk agar terlepas dari kemacetan di perbatasan Sumsel dan Lampung. Para awak truk yang memburu waktu untuk sampai tujuan pun menuruti tawaran mereka. 
"Awalnya mereka menawarkan jasa dan menjadi penunjuk jalan untuk melewati jalan desa yang tembus ke jalintim dengan jasa yang telah disepakati yakni Rp100 ribu/ truk," ujar Hari (40), seorang sopir treller saat berada di salah satu pengurus jasa penyeberangan truk jalinsum Kampung Jering, Bakauheni, Rabu (3/7/2019).

Namun, ujarnya, setelah sampai jalan yang dituju,  penjual jasa kawalan itu meminta uang secara paksa Rp 300ribu. Mereka berdalih yang melakukan pengawalan berjumlah tiga orang dengan rincian jasa satu orang Rp100 ribu. 
"Mereka mintanya maksa. Kalo nggak dikasih mereka berlaku kasar, " ujar Hari menceritakan kejadian saat berada di Mesuji. 

Bahkan, ungkap Hari,  ada teman armada  lain rombongan yang melintas saat malam hari kena palak lebih dari Rp500 ribu. "Kalau malam lebih sadis lagi.  Dengan kondisi bau alkohol mereka minta uang lebih besar lagi," ucapnya. 

Tidak hanya uang pungli yang cukup besar dikeluarkan oleh awak armada angkutan barang. Mereka juga mengaku tidak sedikit keluar uang selama beberapa hari menunggu di rumah makan yang ada di sepanjang jalintim Mesuji. 

"Kami sampai 4 hari bertahan dirumah makan yang tidak jauh dari lokasi jembatan putus,  dengan harapan bisa melintas.  Namun sampai uang jalan kami terkuras, tetap saja belum bisa lewat.  Akhirnya kamipun menyanggupi tawaran jasa para preman tersebut.  Namun diluar dugaan uang yang kami keluarkan makin besar saja," ujar Sitinjak (42), sopir truk lainnya. 
Beruntung,  para awak armada angkutan barang yang kehabisan uang jalan itu masih bisa sampai ke Pelabuhan Bakauheni,  sehingga bisa pinjam biaya transportasi ke pengurus jasa penyeberangan truk yang menjadi langganannya. 

Sebelumnya,  Kapolres Mesuji AKBP Edi Purnomo memastikan tidak ada pungli yang dilakukan oleh preman, karena menempatkan sejumlah personel di jembatan penghubung Lampung-Sumatera Selatan untuk mengantisipasi pungutan liar. "Kalau di Mesuji Lampung gak ada tuh pungli mas, belum tau kalo Mesuji OKI. Tapi tetap kita antisipasi," kata Edi saat dihubungi Lampost.co, Selasa (2/7/2019) malam. .

Aan Kridolaksono



Berita Terkait



Komentar