#lampungfair#anjungan#tapis#beritapesibar

Tapis Pulau Pisang Merambah Kancah Nasional

( kata)
Tapis Pulau Pisang Merambah Kancah Nasional
Pengrajin kain tapis asal Pulau Pisang di Anjungan Pemkab Pesisir Barat. Foto: Asrul Septian Malik

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Desa Labuhan, Kecamatan Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat ternyata penghasil kerajinan tangan tapis terbesar di Provinsi Lampung.

Tapis asal Pulau Pisang, berbeda dengan tapis dari daerah lain. Beberapa motif yang ditekuni pengrajin di Pulau Pisang yakni tekat sporadis (gunung letak ketik), tekat buku-buku (tekat sesiku), tekat mata pete, tekat sayak telanai (tekat ketupat), dan tekat awan bejumpu (awan bejumpu).

Setiap tekat memiliki motif rajutan yang berbeda dan hanya ada di Pulau Pisang. "Notabene gadis dan ibu rumah tangga di tempat kami mayoritas pengrajin tapis," ujar Herni Febrita, pengrajin tapis di anjungan Pesisir Barat, pada gelaran Lampung Fair 2019, Minggu (28/4/2019).

Tapi tersebut dapat dibuat dalam bentuk, kain, selendang, tas, dompet, dan benda lainnya. Untuk kain atau selendan  biasa digunakan pada acara adat dan juga acara formal yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp2,8 juta hingga Rp5 juta tergantung dari benang dan tingkat kesulitan tekat yang dirajut.

Sedangkan untuk dompet, tas dan benda sejenisnya mulai dari Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. "Tapis kami pembelinya pun bukan cuma dari Pesisir Barat atau provinsi Lampung daerah lainnya, tapi sudah sampai tingkat nasional. Ada dari Papua, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa tengah, DKI Jakarta, dan banyak provinsi lain," ujarnya.

Asrul Septian Malik



Berita Terkait



Komentar