#kpk#AgusRahardjo

Tangan Dingin Agus Rahardjo Cs

( kata)
Tangan Dingin Agus Rahardjo Cs
Pimpinan KPK 2015-2019. Foto: MI

JAKARTA (Lampost.co) -- Masa pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid IV segera berakhir. Kepemimpinan Agus Rahardjo cs dilanjutkan pimpinan jilid V yang diketuai Komjen Firli Bahuri.

Segudang prestasi ditorehkan ‘tangan dingin’ Agus cs sejak menakhodai Komisi Antikorupsi pada 21 Desember 2015. Salah satunya, mengungkap praktik rasuah melalui operasi tangkap tangan (OTT).

Kepemimpinan Agus cs mencatat sejarah pada 2017. KPK menjalankan OTT sebanyak 19 kali dengan total tersangka mencapai 72 orang.

Jumlah ini melampaui penindakan di tahun-tahun sebelumnya. Tak berhenti di situ, Agus cs bahkan lebih garang di tahun berikutnya. Statistik penindakan era pimpinan KPK jilid IV terus melonjak.

Pada 2018, KPK tercatat menggelar OTT sebanyak 29 dengan 113 tersangka. OTT di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada Selasa, 18 Desember 2018, menjadi catatan penutup di tahun tersebut.

Mereka yang ditetapkan sebagai tersangka terdiri atas berbagai unsur mulai dari legislator, aparat hukum, hingga kepala daerah. Total tersangka itu belum termasuk dengan tersangka dari hasil pengembangan perkara.

Sementara pada 2019, penindakan KPK mulai sedikit kendur. Lembaga Antirasuah hanya melakukan OTT sebanyak 20 kali. Namun, 47 kepala daerah menjadi 'pasien' KPK di tahun ini.

Pimpinan KPK jilid IV ini juga menorehkan tinta emas di sektor penindakan lain. Agus cs dianggap berhasil menuntaskan sejumlah kasus korupsi besar.

Kasus ini meliputi korupsi proyek pengadaan KTP berbasis elektronik (KTP-el), korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI), serta suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero). Teranyar, dugaan suap dana hibah Kemenpora untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) dibongkar.

Korupsi KTP-el

Agus cs berhasil menyeret aktor intelektual dari praktik kotor korupsi KTP-el yakni mantan Ketua DPR Setya Novanto ke pengadilan. Novanto divonis 15 tahun penjara dan membayar denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Dia juga diwajibkan membayar uang pengganti USD7,3 juta (Rp102,1 miliar) dikurangi Rp5 miliar yang telah dititipkan kepada penyidik. Saat ini, Novanto tengah menjalani masa hukumannya di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Suap SKL BLBI

Agus cs menyelesaikan penyidikan SKL BLBI yang menjerat mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temengung. Syafruddin bahkan dibawa ke meja hijau.

Di tingkat pengadilan pertama Syafruddin terbukti bersalah dan dihukum 13 tahun penjara. Di tingkat banding majelis hakim memperberat hukumannya menjadi 15 tahun penjara. Namun, di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) justru membebaskan Syafruddin.

KPK belum memutuskan upaya hukum lain atas putusan yang membebaskan Syafruddin. Pasalnya, hingga kini MA belum menyerahkan salinan putusan kasasi tersebut.

Suap pengadaan pesawat Garuda

KPK era Agus cs akhirnya merampungkan berkas penyidikan kasus suap di maskapai pelat merah. Dua tersangka yakni mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan pengusaha Soetikno Soetardjo segera diadili dalam waktu dekat.

Bukan hal yang mudah bagi KPK membawa kedua tersangka itu ke hadapan majelis hakim. Agus cs bahkan membutuhkan waktu dua tahun 11 bulan untuk menuntaskan penyidikan kasus ini.

Masa waktu ini terhitung sejak penerbitan surat perintah penyidikan (sprindik) pada 16 Januari 2017. Dalam kurun waktu tersebut, KPK telah memeriksa 80 saksi dan mengidentifikasi kontrak bernilai miliaran rupiah yang ditandatangani Garuda Indonesia.

KPK juga menemukan dugaan aliran dana yang jauh lebih besar dari dugaan awal sebesar Rp20 miliar menjadi Rp100 miliar untuk sejumlah pejabat Garuda. Pada proses penyidikan ini pula KPK mengungkap adanya praktik pencucian uang oleh kedua tersangka.

Suap dana hibah Kemenpora

KPK membongkar praktik rasuah di Kemenpora ini melalui OTT. Lima orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini: Sekretaris KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy, Deputi IV Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemenpora Adhi Purnomo, dan staf Kemenpora Eko Triyanto.

Tak cukup sampai di situ, KPK mengembangkan perkara hingga menetapkan mantan Menpora Imam Nahrawi sebagai tersangka. Imam diduga menerima uang sebesar Rp26,5 miliar sebagai bentuk komitmen fee atas pengurusan proposal yang diajukan KONI kepada Kemenpora.

Uang itu diterima Imam secara bertahap yakni Rp14,7 miliar dalam rentang waktu 2014-2018 melalui asisten pribadinya, Miftahul Ulum, yang juga menjadi tersangka dalam perkara ini. Imam juga diduga meminta Rp11,8 miliar dalam rentang waktu 2016-2018.

Hingga saat ini KPK masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi untuk melengkapi berkas penyidikan Imam. Kemungkinan dalam waktu dekat Imam segera diadili.

Jual beli jabatan di Kemenag

Kasus suap ini dibongkar Agus cs melaui OTT pada Jumat, 15 Maret 2019. Lima orang diamankan dalam operasi senyap tersebut, salah satunya mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy alias Romy.

Dari hasil pemeriksaan intensif, penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup untuk menaikkan status Romy sebagai tersangka. Romy diduga menerima suap dari Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Suap diberikan agar Romy mengatur proses seleksi jabatan untuk kedua penyuap tersebut. Saat ini, Romy tengah menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dalam waktu dekat, majelis hakim memutuskan vonis terhadap Romy.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar