#tambangemas#pesawaran#beritalampung#liar

Tambang Liar di Register 20 Gunung Bunder Tak Pernah Berakhir

( kata)
Tambang Liar di Register 20 Gunung Bunder Tak Pernah Berakhir
Tambang Emas Liar di Register 20 Gunung Bunder Tak Pernah Berakhir. (Foto:Lampost/Aris susanto)


PESAWARAN (Lampost.co)--Penambangan emas yang dikelola secara liar terus bermunculan di kawasan hutang lindung, Gunung Bunder, Kecamatan Padangcermin, Pesawaran.
Liku liku lorong panjang yang mirip goa di bukit dalam kawasan register 20 ini tidak mudah dicapai. Tak  jarang terjadi longsor yang mengakibatkan para pekerja tewas tertimbun matrial tanah.  Namun peristiwa ini tidak pernah terungkap ke publik. 
Selain pekerja tambang merupakan orang dari luar Lampung, kejadian ini diduga sengaja dirahasiakan alias ditutupi agar tidak merebak kemana mana, seperti longsor yang terjadi sekitar tiga tahun silam. 

Menurut seorang warga kepada lampost.co, kejadian itu sudah terbiasa menimpa para pekerja tambang. “Pekerja itu bukan orang sini (penduduk setempat), jadi ya masyarakat diam saja,” ujar seorang warga.

Berdasarkan penelusuran Lampost.co, sebelum terjadi banjir di sejumlah tempat di Pesawaran hingga perbatasan wilayah Tanggamus, kegiatan penggalian lubung illegal terus berlangsung.
Sebagai bukti, para pemilik mesin gelundung,  untuk  mengolah batu yang mengandung logam emas, perak dan perunggu masih beroperasi. Contohnya di sekitar Desa Bunut, Bunut seberang, Kecamatan Way Ratai.

Menurut salah satu pemilik mesin gelundung,  mereka membeli batu galian dari penambang yang berada di register 20, satu karungnya mencapai Rp100 ribu. Kemudian ongkos ojek dari register 20 sampai ke tempat pengolahan di Bunut bisa mencapai Rp50 ribu per karungnya.
Batu galian yang mereka beli diakui pemilik mesin gelundung hanya merupakan limbah atau sisa pengeolahan tambang yang dikelola dengan dua cara yaitu secara rendam dan secara giling. 
Ratusan karung batu dibeli para pemilik mesin gelundung dengan harapan bisa mendapatkan emas, perak dan perunggu. Tentu saja hal ini menjanjikan keuntungan, sehingga sampai saat ini aktivitas itu masih berlangsung. 

Pengolahan batu tambang untuk diambil emas, perak dan perunggu itu ada dua cara. Pertama batu digiling menggunakan mesin gelundung. Yang kedua menggunakan sistem rendaman. Maksudnya batu hasil galian direndam di kolam selama dua tiga hari untuk dapat diambil butiran butiran logam emasnya. 

Cara itu banyak dilakukan karena menghidari kecurangan tukang ojek yang bisa saja mengurangi batu mineral yang mengandung emas, perak dan perunggu yang dibawanya dari Gunung Bunder saat dalam perjalanan. 
Perjalanan dari Bunut menuju kawasan register 20 Gunung Bunder menempuh jarak selama sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor trail  atau sepeda motor yang sudah dimodifikasi agar tidak mudah tergelincir. Para tukang ojeknya pun  orang yang sudah terlatih menempuh medan yang terjal dan berbahaya, serta memahami lokasi tambang. 

Para pekerja tambang bukan warga setempat melainkan warga pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat. Mereka adalah orang orang yang sudah terbiasa bekerja di tambang emas sejak kecil. 
Menurur warga, pada tahun  2016 banyak korban tewas tertimbaun yang merupakan warga dari Cikotok, Sukabumi Jawa Barat. Jumlahnya mencapai 42 jiwa dan kejadian ini pun tidak pernah terdengar oleh publik. 

Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro, saat diminta tanggapannya terkait aktivitas tambang emas liar di wilayah hukum Kabupaten Pesawaran mengatakan akan membicarakannya secara bersama sama dengan pihak pihak terkait, dengan menjunjung tinggi kearifan lokal. Alasannya,  lokasi tambang mungkin milik warga yang disewakan pada pihak lain. Kemudian izin penambangan merupakan kewenangan pemerintah Provinsi Lampung, termasuk Dinas Kehutanan Provinsi. 

Menurut Popon bisa saja penambang illegal itu didorong agar memiliki legalitas dengan tujuan untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD). 

Aris Susanto







Berita Terkait



Komentar