#pencemaranlingkungan

Kasus Limbah Oli di Panjang Ditutup Tanpa Catatan

( kata)
Kasus Limbah Oli di Panjang Ditutup Tanpa Catatan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung nyatakan kasus pencemaran limbah oli yang ada di pinggir pantai Panjang telah selesai. (Foto: Dok.Lampost)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung nyatakan kasus pencemaran limbah oli yang ada di pinggir pantai Panjang telah selesai. Limbah oli yang berhas dikumpulkan telah dikirim oleh pihak DLH Provinsi.

"Karena kasus ini masuk kategori kedaruratan, pada Maret lalu setelah kejadian penemuan tersebut telah berhasil dikumpulkan limbah yang tercemar minyak yang berjenis seperti oli," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Emilia Kusumawati, Minggu, 3 Juli 2022.

Ia menerangkan setelah dilakukan tes di laboratorium, pihak pusat menyatakan limbah oli tersebut termasuk dalam golongan limbah berjenis bahan berhahaya dan beracun (B3) sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dilakukan penanganan hingga pengumpulan.

"Sebelumnya kita kemas kirimkan sample ke Banten karena Provinsi Lampung belum ada perusahaan yang mengelola limbah B3, ditambah dengan belum adanya ahli yang menangi pemeriksaan limbah berbahaya, sehingga kami lakukan kerja sama untuk melakukan penanganan," katanya.

Selama pihaknya ajukan sample di laboratorium, untuk limbah tersebut sementata waktu dititipkan ke DLH kota Bandar Lampung. "Karena sampah menempel dengan sampah rumah tangga, sehingga menjadikan limbah olinya memiliki beban sebanyak 6 ton," ujar dia.

Dalam penanganan limbah B3 tersebut, saat ini sudah dikirimkan ke pusat untuk dilakukan pemusnahan. "Karena ada proses diantaranya kita kirimkan surat kedaruratan ke KLH sehingga mengalami proses, sekitar tiga bulan, setelah diurus prestonik. Harus membutuhkan penanganan khusus. Sehingga membutuhkan waktu lama dalam penengakan kasus ini," ujarnya.

Sehingga setelah melalui rangkaian prosedur, PT Rahmat Riski sebagai pengantar sampah itu ke Tanggerang untuk dilakuksn proses pemusnahan. "Dikirimkan ke Sukabumi untuk dilakukan pemusnahan, dan selesai pada 28 Juni 2022," katanya.

Ia memaparkan jika fokus DLH lebih ke arah penanganan limbah, sementara untuk mencari siapa yang menyebar limbah tersebut bukan ranah DLH Provinsi Lampung. Makanya kasus ini dilimpahkan ke pihak berwenang untuk pengusutan.

"Limbah B3 tercemar ke pantai, jadi menghambat perjalanan nelayan dan mengotori lingkungan, fokus kita kemarin bagainana agar sample sampah ini memdapat status berbahaya atau tidak dimusnahkan sesuai prosedur," katanya.

"Tumpahan harus dikaji agar bisa dideteksi, prosesnya cukup panjang. Kita sebelumnya koordinasi dengan Diskrimsus Polda Lampung, kita bagi tugas dan kita hanya lebih fokus bagaimana agar limbah bisa disinggirkan agar tidak berdampak ke masyarakat," katanya.

Ia tak menuduh siapa yang menyebar limbah tersebut. "Di Panjang itu kapal banyak, kita upayakan agar masyarakat bisa keluar dengan aman, sekarang PR kita bersama adalah sampah yang memang ada di pinggir pantai jangan sampai ada lagi," katanya.

Sebab menurutnya, bukan hanya tugas DLH atau pemerintah namun juga tugas semua dalam menjaga lingkungan pantai. "Sampah menjadi tanggung jawab kita semua, masyarakat harus disosialisasikan juga. Apalagi laut itu hilir, sampah ini dari hulu akan bertemu," katanya.

Sri Agustina








Berita Terkait



Komentar