#nuansa#rasa-tak-sabar#pembangunan-lampung

Tak Sabar

( kata)
Tak Sabar
dok Lampost.co

Chairil Anwar

Wartawan Lampung Post

SEBAGAI pengendara yang saban hari mengitari bilangan Rajabasa, Bandar Lampung, ada sebuah “rasa tak sabar” saat melihat progres pembangunan jalan layang (flyover) yang menghubungkan Jalan Komarudin dan Jalan Kapten Abdul Haq.

Konstruksi jembatan sudah tersangga oleh tiang-tiang beton yang melewati Jalan Soekarno-Hatta, median jalan di bawah flyover sudah terbentuk, dan aspal hitam pun sudah mengalasi jalan yang akan membuat pengendara tak perlu lagi dag-dig-dug saat melintasi jalan bypass.

Rasa tak sabar itu makin menjadi setelah selama pembangunan flyover dilaksanakan, arus lalu lintas di simpang DAMRI tersebut memang sedikit semrawut. Selain lampu lalu lintas yang sudah tak lagi ada karena simpang ditutup, kondisi U-turn di dekat simpang itu pun sangat berbahaya.

Di tengah-tengah tempat memutar kendaraan itu, kondisi jalannya ambles. Jika posisi ban kendaraan, khususnya motor, tidak tegak lurus melewatinya, risiko ban selip hingga kendaraan oleng sangat mungkin terjadi.

Satu-satunya bantuan yang mampu memperlambat kendaraan dari arah sebaliknya hanyalah keberadaan pak ogah. Keberadaan “polisi cepek”—sekarang seribu atau dua ribu—itu pun kurang efektif. Sebab, mereka hanya berdiri di sisi kanan kendaraan untuk bersiap menyabet receh dari para sopir. Ditambah, mereka tak punya keahlian khusus untuk mengatur lalu lintas.

Dengan kondisi setiap hari yang seperti itu, tak heran jika pengendara dan warga setempat berharap agar flyover segera rampung lalu diresmikan.

Lha, mengapa dengan warga setempat? Ternyata, berdasar berita dari Lampung Post edisi 18 Februari 2020, warga di Kelurahan Raja­basa, Bandar Lampung, mengeluhkan kondisi drainase yang belum rampung dikerjakan. Akibatnya, saat hujan yang akhir-akhir ini sering turun dengan lebat, rumah mereka kerap menjadi langganan terendam banjir.

Pembangunan jalan layang tersebut membuat saluran air ter­tutup aspal, sehingga aliran tersumbat dan mengakibatkan air meluap ke tujuh rumah di sekitar jalan layang. Untuk itu, warga berharap kontrak­tor proyek dapat memperhatikan struktur pembangunan terhadap dampak lingkungan, khususnya saluran air.

Pembangunan adalah proses perubahan yang terstrukur yang dilakukan melalui upaya-upaya yang sadar dan direncanakan. Semoga pihak terkait pun punya rencana untuk menindaklanjuti keluhan warga. Begitulah konsekuensi pembangunan. Sebelum rasa manis yang dikecap usai pembangunan itu berhasil, tentu ada dampak minor yang mendahuluinya.

Target penyelesaian proyek ini adalah pada Februari 2020, lantaran terjadi adendum atau penambahan waktu pembangunan jembatan yang awalnya direncanakan rampung akhir tahun 2019.

Semoga proses finishing segera dikebut agar pembangunan segera beres, sehingga keluhan warga beserta pengendara bisa terobati oleh mulusnya berkendara di atas jalan layang tersebut. Tabik!

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar