#terorisme#taliban
Survei Mengenai Tren Terorisme Global

Survei: Taliban Jadi Grup Paling Mematikan di 2018

( kata)
Survei: Taliban Jadi Grup Paling Mematikan di 2018
Kelompok militan Taliban. (Foto: AFP/FILE) Medcom.id

SYDNEY (Lampost.co): Taliban telah melampaui Islamic State (ISIS) dan menjadi grup militan paling mematikan sepanjang 2018. Hal tersebut disampaikan dalam sebuah survei mengenai tren terorisme global, Rabu 20 November 2019.

Dalam survei Indeks Terorisme Global, yang dirilis organisasi Institute for Economics and Peace (IEP), Afghanistan menjadi negara dengan peningkatan terbesar kematian terkait terorisme di tahun 2018. Angka kematiannya mencapai 6.103.

"Situasi di Afghanistan unik karena Taliban dan grup pecahan ISIS lokal hanya aktif di negara tersebut," kata Serge Stroobants, Direktur IEP cabang Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Menurutnya, lingkungan politik yang tidak stabil di Afghanistan menjadikan aktivitas pemberontakan dan terorisme tumbuh subur.

"Angka-angka ini begitu mengejutkan. Angka kematian akibat aksi Taliban meningkat hingga 70 persen," tutur Stroobants, dikutip dari RFI. IEP menyebut Taliban berkontribusi atas 38 persen total kematian global akibat terorisme.

Bertolak belakang dengan Taliban, kematian terkait ISIS di kancah global turun hingga di bawah 70 persen. Tidak ada kematian terkait ISIS di Eropa Barat sepanjang 2018.

Meski kejayaan ISIS di Suriah dan Irak telah runtuh, pendiri IEP Steve Killelea mengingatkan komunitas Eropa untuk selalu waspada.

"Situasi saat ini masih rentan. Banyak wilayah di Suriah yang masih diperebutkan, dan banyak juga grup-grup kecil pendukung filosofi ISIS yang masih aktif. Ancaman teror di Eropa masih ada," ucap Killelea.

Sementara itu dalam tiga tahun terakhir, IEP mencatat ada peningkatan terorisme kanan-jauh di Eropa Barat, Amerika Utara dan Oceania. Serangan semacam itu cenderung lebih sulit ditangani polisi, karena para pelakunya tidak terikat dengan organisasi apapun.

"Terorisme kanan-jauh meningkat pesat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan 320 persen dalam jumlah korban jiwa akibat aktivitas teroris kanan-jauh," ujar Killelea.

Meski angka kematian akibat terorisme kanan-jauh lebih sedikit dari aksi brutal grup seperti Taliban atau ISIS, IEP mengimbau Eropa untuk tetap waspada dan mengalokasikan sumber daya yang ada untuk menghadapinya.

Bambang Pamungkas

Berita Terkait

Komentar