koronanasional

Surabaya Masih Jauh dari New Normal

( kata)
Surabaya Masih Jauh dari New Normal
Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengklarifikasi tudingan penelantaran pasien. (Foto: Istimewa)

Surabaya (Lampost.co) -- Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Barat, belum berencana memikirkan penerapan kenormalan baru (new normal) usai pembatasan sosial berskala besar. Pertimbangannya, kasus covid-19 di Surabaya masih berada diangka 2.633.
 
Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser, mengatakan, Pemkot Surabaya masih fokus menekan angka covid-19. Terlebih Kota Pahlawan penyumbang angka penyebaran virus korona tertinggi se-Jatim.
 
"Kita bicara new normal, tapi pandemi di Surabaya masih tinggi. Kemarin provinsi juga ngasih warna hitam (darurat covid-19), masa kita paksakan new normal. Ini yang benar yang mana," ujar Fikser, Selasa, 2 Juni 2020.

Kendati demikian, Fikser tak menampik new normal bisa diterapkan setelah PSBB tahap III rampung. Ia menyebut konsep new normal telah disiapkan masing-masing organisasi perangkat daerah di Surabaya.
 
"Kita tidak bicara dulu soal pelaksanaan new normal. Karena sekarang masih PSBB, dan masih ada beberapa hari lagi selesainya," tegasnya.
 
 Menurutnya, masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak seperti asosiasi, pengamat, maupun akademisi. Sebab, new normal merupakan hal baru dan tidak semua negara melakukannya.
 
"Tidak ada yang bisa ditiru makanya harus dibahas bersama. Konsep pemerintah seperti apa, nanti didiskusikan dengan asosiasi. Ketika mereka punya konsep yang sama dan disetujui nanti akan dilaporkan ke wali kota. Misal bidang pariwisata, transportasi, perdagangan, maupun pendidikan," ungkap dia.
 
Penerapan new normal, lanjut dia, harus disiapkan matang. Sehingga pada pelaksanaanya selaras dengan keinginan masyarakat.
 
"Kita enggak bisa ngomong ini maunya pemerintah, karena bisa saja nanti pelaksananya tidak sesuai dengan di bawah sehingga jika dipaksakan akan terjadi perdebatan. Kita matangkan dulu konsepnya, kita laporkan, dan wali Kota nantinya yang akan menyampaikan konsepnya," tambahnya.
 
Pada prinsipnya, imbuh Fikser, Pemkot Surabaya masih fokus pada memutus mata rantai penyebaran covid-19. Terutama dalam hal penyembuhan dan penanganan. Setelah adanya penurunan angka covid-19, new normal akan diterapkan di Surabaya.
 
"Pemeriksaan massal besar-besaran seperti rapid test, swab, memindahkan atau memasukkan (pasien) ke RS, hotel, RS darurat, itu masih kita lakukan. Kami juga mendorong adanya kampung tangguh, Jogo Suroboyo, terus didorong agar partisipasi masyarakat lebih dikedepankan mulai dari tingkat bawah sampai ke level atas," pungkasnya.
 
Berdasarkan data yang dihimpun dari sebaran covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemprov Jatim, angka terkonfirmasi positif di Surabaya per 1 Juni 2020 mencapai 2.633 orang. Sedangkan angka sembuh dari terkonfirmasi positif mencapai 240 kasus dan angka kematian dari terkonfirmasi positif mencapai 246 kasus.

Medcom



Berita Terkait



Komentar