#Kesehatan#VirusKorona

Suka Duka Jadi Relawan Covid-19

( kata)
Suka Duka Jadi Relawan Covid-19
Pemakaman jenazah dengan covid-19 yang dilakukan relawan PMI Sleman. Dokumentasi PMI Sleman.

Sleman (Lampost.co) -- Sudah sebulan Septyadi Pityanta tak pulang ke rumahnya di Dusun Warak, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lelaki 33 tahun ini menahan rindu dengan istri dan tiga anaknya demi misi kemanusiaan menjadi relawan covid-19.

Adi, panggilan Septyadi, menjadi relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman, selama menjadi relawan ia menginap di kantor PMI Sleman di Jalan Dr. Radjimin, Sucen, Desa Triharjo.

"Sudah sebulan tidak pulang. Pulang hanya 2-3 jam untuk ambil pakaian. Sekarang pakaiannnya sudah di PMI semua. Saya gak pernah pulang lagi ke rumah," kata Adi kepada Medcom.id, Rabu, 29 April 2020.

Dalam masa wabah korona ini, Adi menjadi humas Satgas Covid-19. Ia bertugas menghubungkan pihak gugus tugas dengan rumah sakit dan keluarga saat ada kematian warga karena korona. Adi harus sudah memastikan pemulasaraan jenazah dilakukan sesuai protokol.

Di lapangan Adi lantas mengecek kesiapan pemakaman dan memastikan tak ada penolakan. Jika terjadi suatu hal, ia harus memberikan edukasi ke warga agar memahami pemakaman dilakukan sesuai prosedur dan tak akan terjadi penularan.

"Setiap melakukan pemakaman, kita membawa tim spraying untuk mendekontaminasi ulang peti jenazah, ambulan, dan personel yang menurunkan jenazah," kata lelaki yang telah jadi relawan PMI Sleman sejak 2006 ini.

Adi mengakui tak mudah bertahan menjadi relawan seperti saat ini. Selain waktu sampai kapan yang tak pasti, butuh tenaga panjang, situasi masyarakat beragam, dan jauh dari keluarga.

Pada awal jadi relawan covid-19 25 Maret lalu, pihaknya bertugas berdasarkan panggilan. Ia sempat terbesit untuk pulang ke rumah dan kembali jika ada yang menghubungi.

"Jika dipikir, kalau lagi istirahat sama anak di rumah tiba-tiba ada panggilan kan harus ribet lagi persiapan, ya sudah sekalian keluar dan stay di PMI. Daripada saya bolak-balik pulang saya malah membawa virus ke rumah," ungkap Adi.

Adi pun merasa sebagian besar masyarakat masih kurang peduli untuk mematuhi prosedur pencegahan penyebaran virus korona. Kekurangpedulian itu bisa membuat rantai penyebaran virus sulit terputus.

"Masyarakat juga kurang disiplin, physical distancing, imbauan pemerintah tidak dijalankan. Nanti akan menambah masa selesainya covid-19," ucap lelaku yang hobi bersepeda ini.

Namun Adi merasa senang saat bisa sosialisasi dan masyarakat bisa tanggap. Bersama gugus tugas di tingkat kecamatan dan desa, ia merasa koordinasi bisa lebih mudah serta cepat saat pemakaman.

"Masyarakat tidak berstigma jenazah covid-19 menular dan tidak ada penolakan, itu saya sudah senang," ungkapnya.

Tantangan di Bulan Ramadan

Menjadi relawan tak berarti menghalangi Adi menjalankan puasa. Ia berusaha ibadahnya tetap terjaga meski harus disertai perjuangan.

Adi menerangkan sempat terjadi miss komunikasi antara pihak rumah sakit dan tim di lapangan saat ia bertugas di hari kedua bulan ramadan. Kondisi itu membuatnya harus memakai baju hazmat dan alat pelindung diri (APD) lain selama 45 menit tanpa pergerakan.

Sementara paket yang ditunggu belum kunjung datang. Di sisi lain durasi menjalani tugas relawan pemakaman biasanya hanya sekitar 90 menit.

"Jadi itu yang membuat dehidrasi, lelah. Ditambah terik matahari saat pemakaman. Sehingga pas balik ke tempat dekontaminasi saya memutuskan membatalkan puasa," katanya.

Adi dan sejumlah relawan sudah sembilan kali melakukan pemakaman jenazah dengan covid-19. Proses pemakaman yang dilakukan di antaranya di Kecamatan Kalasan, Depok, Godean, Ngaglik, dan Mlati.

Sekali bertugas, lanjutnya, harus ada 11 relawan atau minimal sembilan. Sejumlah tugas harus dibagi yakni membawa jenazah di satu mobil ambulan, membawa rombongan relawan di satu mobil ambulan lagi, dan melakukan asesmen membawa sepeda motor.

"Sejauh ini tidak ada penolakan (pemakaman jenazah dengan covid-19). Warga sudah tahu protokolnya sehingga tak ada penolakan," tuturnya.

Adi menambahkan, ia terus menginap di PMI Sleman sejak jadi relawan covid-19. Adi mengaku baru sekitar lima kali ke rumah hanya untuk mengambil pakaian. Terkadang, ia memanfaatkan layanan pesan-antar (go send) untuk mengambil pakaian yang telah disiapkan keluarganya.

"Kalau pulang, saya nunggu di pinggir gerbang, pakaian dicantolin di gerbang. Anak saya lihat dari pintu sambil melambaikan tangan," katanya.

Adi harus menahan rindu dengan istri, tiga anaknya yang kini berusia 6 tahun, 2,5 tahun, dan 4 bulan. Jika rindu, ia akan memanfaatkaan layanan pesan bergambar dan bersuara atau video call.

"Kangen keluarga ya pasti. Anak ya nanyain kenapa gak pulang, pulangnya kapan. Daripada kalau pulang saya rentan jadi carrier atau pembawa virus, mending membatasi diri," ungkapnya.

Selagi menjalani tugas kemanusiaan, Adi akan berusaha menjaga semangat kerelawanannya. Namun, ia berharap pandemi virus korona segera berakhir dan masyarakat bisa hidup sehat tanpa khawatir ancaman kesehatan. Ia pun bisa berkumpul keluarg.

"Saya sempat ngomong ke keluarga, kalau sudah selesai pulang. Tapi sebelumnya harus isolasi diri dua minggu," pungkasnya.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar