#ntp#pertanian#beritalampung

Subsektor Perikanan Budidaya Sumbang NTP Tertinggi Lampung

( kata)
Subsektor Perikanan Budidaya Sumbang NTP Tertinggi Lampung
Ilustrasi. Foto: Dok/Antara

Bandar Lampung (Lampost.co): Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung Mei 2020 untuk masing-masing subsektor tercatat untuk subsektor padi dan palawija (NTP-P) (93,37), hortikultura (NTP-H) (94,14), tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr) (86,47), peternakan (NTP-Pt (98,29), perikanan tangkap (99,07), dan perikanan budidaya (100,26). 

Sedangkan NTP Provinsi Lampung tercatat sebesar 91,51, pada Mei 2020. Beberapa komoditas mengalami penurunan harga, antara lain pada komoditas subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan perikanan tangkap, seperti, gabah, jagung, cabai rawit, cabai hijau, cabai merah, dan beberapa jenis sayuran dan tanaman obat, kopi, karet, kelapa sawit, dan beberapa jenis ikan tangkap. 

"Sedangkan untuk subsektor peternakan dan perikanan budidaya mengalami kenaikan, seperti ternak besar, ternak kecil, unggas, dan telur itik/bebek, dan beberapa ikan budidaya," ujar Kepada BPS Provinsi Lampung, Faizal Anwar, kepada Lampung Post, 2 Juni 2020.

Dari 34 provinsi yang diamati perkembangan harganya, tambah dia, pada Mei 2020, ada 10 provinsi mengalami kenaikan NTP dan 24 provinsi lainnya mengalami penurunan. 

"Pada Mei 2020, daerah perdesaan di Provinsi Lampung mengalami deflasi sebesar 0,50 persen yang disebabkan oleh turunnya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan," kata dia.

Secara rinci yaitu, pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,25 persen, perumahan, alat listrik, dan bahan bakar lainnya naik sebesar 0,20 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,34 persen, kesehatan tidak mengalami perubahan, transportasi naik sebesar 0,26 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya, pendidikan, dan penyediaan makan dan minuman/restoran tidak mengalami perubahan, dan perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,02 persen. 

"Sedangkan yang mengalami penurunan adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,97 persen dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen," terang dia. 

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar