#kelangkaangula#hargagula#ekbis#beritalampung

Stok Langka, Harga Gula Pasir Tembus Rp17 Ribu Per Kilo

( kata)
Stok Langka, Harga Gula Pasir Tembus Rp17 Ribu Per Kilo
Ilustrasi. Foto: Google Images

Bandar Lampung (Lampost.co): Gula pasir mengalami kelangkaan di wilayah Bandar Lampung dalam beberapa minggu ini. Hal itu mulai dirasakan oleh ibu rumah tangga, pedagang, hingga distributor.

Para pedagang pasar yang biasa menjual gula pasir seharga Rp12 ribu per kilo, kini menjual Rp15 ribu per kilo bahkan hingga Rp17 ribu per kilo.

"Itu untuk gula yang tidak ada merek. Kalau ada merek beda lagi harganya. Sekarang udah sulit banget stoknya saja tipis. Sekarang saya jualnya Rp17 ribu per kilonya," ujar Nani (40) salah satu pedagang di Pasar Koga, Kedaton, kepada Lampost.co, Jumat, 6 Maret 2020.

Di Pasar Pasir Gintung, para pedagang juga merasakan hal yang serupa. Menurut salah seorang oedagang, Asep (50), dia kebingungan memberi harga yang mahal karena pelanggannya rata-rata pedagang kue.

"Kadang bingung mau kasih harga ke pelanggan, mereka kaget harganya naik banget. Ini semenjak ada berita virus korona, makanya harga langsung naik banget. Semoga aja gak lama-lama kelangkaan ini, saya masih jual Rp15 ribu per kilo. Tapi lihat beberapa hari kedepan kalau makin langka pasti akan naik," ujar dia.

Tidak hanya pasar tradisonal ataupun warung kecil, kelangkaan ini dirasakan oleh berbagai supermarket yang ada di Bandar Lampung. Salah satunya Supermarket Chandra yang mengaku kelangkaan gula pasir sangat dirasakan, untuk merek-merek yang ternama pun kenaikan cukup signifikan.

"Sudah terbatas sekali stoknya. Tapi tetap kami jual karena merupakan kebutuhan masyarakat. Kita jual berbagai merek sekarang harganya dari Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per kilo," kata Asisten Manajer Chandra Superstore Lampung, Dian Harianto, Jumat, 6 Maret 2020.

Berita terkait:

Stok Gula Langka di Pasaran

Menurutnya dari distributor yang menyetok gula cukup terbatas, sehingga Chandra Superstore pun memberikan batasan untuk para pembeli. "Saat ini kita batasi untuk jumlah pembeli, 2 kg untuk tiap pembeli," ujarnya.

Ia mengimbau kepada oknum nakal untuk tidak melakukan penimbunan barang yang bisa menyebabkan adanya kelangkaan gula ini.

"Kadang kita juga khawatir ada pembeli yang bolak-balik beli gula untuk ditimbun. Kita antisipasi sekali, kasian kalau ada yang tidak kebagian," ujar dia.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar