#beritalampung#beritabandarlampung#bbm

Stok BBM di Pertamini Aman di Tengah Antrean Panjang Pembeli di SPBU

( kata)
Stok BBM di Pertamini Aman di Tengah Antrean Panjang Pembeli di SPBU
Mesin Pertamini digital milik penjual di Jalan Hi Agus Salim, Bandar Lampung. Lampost.co/Umar Robbani


Bandar Lampung (Lampost.co): Pemandangan antrean kendaraan hampir di semua SPBU selalu terlihat setiap hari, terlebih pada jam-jam ramai seperti pagi atau sore. Puluhan kendaraan roda dua mengular meski sudah menerapkan 2 lajur antrean pengisian.

Pada beberapa lokasi SPBU, antrean mobil bahkan hingga keluar area pom bensin. Pemandangan ini biasa terlihat di SPBU pada jalan lintas dan sekitarnya.

Antrean kendaraan di SPBU sudah terlihat sejak menjelang kenaikam harga BBM beberapa waktu lalu. Tapi nyatanya, hingga harga BBM resmi naik, hanya 'Pertamini' yang tak ada antrean. Pertamini adalah sebutan bagi pedagang bensin eceran. 

Baca juga: Empat Gempa Susulan Landa Mentawai 

Pertamini tak pernah kekurangan stok meski SPBU resmi milik Pertamina selalu ramai. Salah satu alasannya adalah keberadaan 'orang dalam'.

"Ada terus sih. Enggak sulit kalau saya, karena suami kerja di pom," ungkap Erna, pemilik kios BBM di Jalan Hi Agus Salim, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung.

Mesin digital miliknya berkapasitas 420 liter untuk 2 jenis BBM, 210 liter pertalite dan 210 liter pertamax. Pertalite paling banyak dicari. Dalam kondisi full 1 tanki pertalite milik Erna bisa habis menjual kurang dari 1 minggu.

Harga per liter pertalite ia jual dengan harga Rp12.000. Lebih mahal Rp2 ribu dari harga di SPBU resmi yakni Rp10.000 ribu per liternya pasca-kenaikan. "Sebelum naik, saya jualnya Rp10.000 se-liternya," kata dia.

Lain lagi Iwan, pedagang bensin eceran di Jalan P. Antasari. Ia tak menggunakan mesin digital, hanya bermodal botol bekas air mineral ukuran 1.500 ml.

Ia tak punya orang dalam di SPBU, tapi sudah jadi langganan salah satu pom bensin yang berlokasi tak jauh dari bengkelnya. Biasanya Iwan membeli stok BBM menggunakan jeriken kapasitas 20 liter pada malam atau sore hari.

"Biasanya (beli ke SPBU) malem atau sore, tergantung stoknya. Kalo udah mau habis ya saya beli," ujarnya.

Karena tak punya orang dalam, ia harus membayar lebih kepada pegawai pom. Untuk 1 jerikenya ia melebihi bayaran Rp15-20 ribu. "Itu sebagai upah si petugas," kata dia.

Dalam sehari bensin ecerannya bisa terjual 10-15 liter. Harganya sama seperti yang dijual Erna, Rp12.000 per liter untuk jenis pertalite. "Ya kalau beli tetap ikut antre, tapi saya bawa jeriken. Boleh kok," ujarnya.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar