#rapidtest#covid19

Stok Alat Rapid Test di Lampura Habis

( kata)
Stok Alat <i>Rapid Test</i> di Lampura Habis
Ilustrasi: Medcom.id


Kotabumi (Lampost.co) -- Logistik pemeriksaan kesehatan tubuh dari Covid-19 atau rapid test di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) habis. Hal ini menjadikan masyarakat kesulitan untuk mengecek kesehatannya. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Penyebaran Penyakit (P2) Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampura, Dian Mauli mengatakan stok logistik pemeriksaan kesehatan dengan rapid test telah habis sejak pekan lalu. Pihaknya mengarahkan warga yang membutuhkan kepada fasilitas kesehatan swasta yang menyediakan pelayanan itu, seperti Rumah Sakit M Yusuf, Kalibalangan dan di Candimas, Kecamatan Abung Selatan.

"Khusus tracing, kami usahakan untuk dilakukan swab test dan melaksanakan karantina mandiri," kata Dian, Rabu, 20 Januari 2021. 

Sementara untuk tes mandiri, lanjutnya, diarahkan kepada rapid test antigen. Bukan antibodi yang selama ini dipakai, baik itu untuk tracing maupun masyarakat membutuhkan.

"Untuk pelayanan umum selama ini kami lakukan di Sekretariatan Posko, Gedung Korpri Kotabumi. Itu memakai rapid test antibodi, tapi untuk pengajuan kali ini di Provinsi Lampung untuk antigen, "terangnya.

Untuk lingkup Pemkab Lampura, kata Dian, pihaknya belum mengajukan. Selain belum ada proses pencairan, juga sedang fokus kepada vaksinasi. Sehingga memilih mengajukan ke provinsi demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Ajuan kita terakhir itu sekitar 100 pcs. Kalau yang lalu pengajuan sampai 11.000 pcs tapi realisasinya berkurang. Sekarang stok kita kosong, sementara untuk di tingkat kecamatan langsung mengajukan ke pusat melalui BOK JKN-KIS BPJS Kesehatan," imbuhnya.

Seorang warga, Muji mengatakan sebelumnya masyarakat yang membutuhkan rapid test tinggal datang ke Gedung Korpri atau Islamic Center. Kini, warga harus mengeluarkan biaya yang dinilai tak sedikit untuk melakukan tes karena tidak ditanggung BPJS Kesehatan. 

"Apalagi saat ini kondisi ekonomi masyarakat sedang lesu, sementara pemerintah mengharuskan warga memeriksakan tubuh bila terjadi kontak erat atau pun setelah melakukan perjalanan," keluh dia.

Kondisi ini, menurut Muji, tentu memberatkan masyarakat.

"Makanya, jumlah yang tidak mau memeriksakan kesehatan itu tak sedikit, meski pun dia selalu berpergian ke luar kota atau bahkan kontak dengan pasien positif Covid-19," kata Muji.  

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar