#jokowi#stafsus

Stafsus Jokowi Siap Mundur Soal Polemik Keterlibatan Ruangguru

( kata)
Stafsus Jokowi Siap Mundur Soal Polemik Keterlibatan Ruangguru
Staf Khusus Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Adamas Belva Syah Devara. Ist

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara, menyatakan siap mundur dari posisinya di lingkaran kepresidenan terkait polemik keterlibatan Ruangguru dalam program kartu prakerja.

Belva yang juga merupakan CEO Ruangguru itu mengaku siap melepas jabatannya jika ada konflik kepentingan dalam penetapan Ruangguru sebagai salah satu mitra pemerintah untuk memberikan pelatihan daring kepada peserta kartu prakerja.

"Saya sedang konfirmasi ulang ke Istana apakah memang ada konflik kepentingan yang ditanyakan walaupun saya tidak ikut proses seleksi mitra (kartu prakerja). Jika ada, tentu saya siap mundur dari stafsus saat ini juga. Saya tidak mau menyalahi aturan apapun," jelas Belva melalui keterangannya, Rabu (15/4).

Belva menjelaskan dirinya tidak pernah ikut campur dalam pengambilan keputusan apapun di program kartu prakerja termasuk besaran anggaran maupun mekanisme teknisnya. Ia menegaskan posisinya sebagai stafsus tidak memiliki kewenangan eksekutif sebagai pejabat pengadaan, pejabat pembuat komitmen, maupun fungsi pelaksana lainnya.

Menurutnya, semua proses penetapan mitra prakerja dilakukan oleh Kemenko Perekonomian dan Manajemen Pelaksana (PMO).

"Penentuan mitra juga kemudian dilakukan independen oleh Kemenko dan PMO, tanpa intervensi siapa pun. Tidak benar bahwa seakan-akan kebijakan ini menguntungkan salah satu pihak, karena prosesnya jelas, dan mitra pun jumlahnya saat ini puluhan, dengan total lebih dari 2.000 kelas dari berbagai bidang," ujarnya.

Belva menambahkan meskipun tidak ada pelanggaran terkait keterlibatan Ruangguru dalam proyek kartu prakerja, ia tetap siap mengundurkan diri demi menghindari kegaduhan publik. Meski begitu, ucap Belva, pengunduran perlu dibahas terlebih dahulu di internal Istana Kepresidenan.

"Sebenarnya demi menghindari persepsi atau asumsi, saya siap dan sudah menawarkan untuk mundur. Namun, keputusan mundur adalah keputusan besar dan harus didiskusikan dengan Istana. Jadi mohon dipahami bukan hanya masalah saya mau atau tidak," ungkapnya.

Terkait dengan rangkap jabatan sebagai stafsus sekaligus masih menjadi CEO Ruangguru, Belva menyatakan sedari awal ia juga mempertanyakan hal tersebut. Kewenangan stafsus yang terbatas, menurut Belva, menjadi alasan pihak Istana tidak mewajibkan ia mundur dari posisi di perusahaannya itu.

"Dari awal, pertanyaan pertama saya ke Istana sebelum saya menerima posisi stafsus adalah apakah saya harus mundur dari perusahaan yang saya rintis. Jawaban Istana jelas, tidak perlu. Menurut Istana, ada mekanisme batasan wewenang saya yang tidak mencakup membuat keputusan. Banyak pekerjaan juga dilakukan secara kolektif. Ini pun jg sudah dijelaskan oleh Istana sejak pengangkatan," ujar Belva.

"Saya hanya berpegang pada pernyataan Istana tersebut dan niat saya hanya kontribusi sebisa saya di bidang yang saya kuasai. Itu lah kenapa kebanyakan program saya sebenarnya di digital services (human centered design dan master data nasional)," tukas Belva.(OL-2)

 

MI



Berita Terkait



Komentar