#simulasibencana#bpbd#beritalampung

Simulasi Bencana Penting untuk Pemahaman Penanggulangan Bencana

( kata)
Simulasi Bencana Penting untuk Pemahaman Penanggulangan Bencana
Petugas BPBD Bandar Lampung saat menyampaikan tentang bagaimana cara penanggulangan terhadap bencana di RTH Kalpataru, Kemiling, Bandar Lampung. Lampost.co/Deta Citrawan

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tata cara ketika menghadapi sebuah bencana, lewat simulasi yang dilaksanakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalpataru, Kemiling, Bandar Lampung, Jumat, 18 Oktober 2019.

Simulasi tentang bencana gempa bumi yang dilaksanakan itu, masih ditujukan kepada anak-anak yang tengah bermain. Dengan tujuan bahwa sejak dini tentang penanganan bencana diketahui baik oleh anak maupun orang tua. 

Dalam simulasi tersebut, seorang petugas membunyikan sirine sebagai tanda adanya bencana dan anak-anak berlari menuju ruang terbuka sambil melindungi kepalanya. "Kita gunakan sirine dan dipasang rambu agar lebih familiar. Di lokasi lain ada yang pakai kentongan sebagai tanda bahaya bencana," ujar Kepala BPBD Samsul Rahman, Jumat, 18 Oktober 2019

Dia mengatakan latihan simulasi tersebut penting diajarkan kepada anak-anak, mulai dari usia lima tahun. Dalam rangka pengurangan korban resiko bencana," lanjutnya. 

Pihaknya menjelaskan, bahwa simulasi bencana harus diinisiasi menjadi sebuah kewajiban rutin karena bencana seperti, gempa, tsunami dan kebakaran merupakan peristiwa yang sewaktu-waktu dapat muncul, tanpa ada yang bisa memprediksi. "Sehingga kalau terjadi gempa ini maka anak-anak sudah mengerti, ketika mereka sedang belajar di sekolah atau sedang bermain di luar tanpa adanya orangtua bisa menyelamatkan diri," harapnya.

Menurutnya, BPBD akan rutin menyelenggarakan latihan dan simulasi bencana setiap bulannya ke beberapa sekolah dan di titik lokasi yang banyak anak-anak bermain. "Ya kemarin sudah dimulai di SMAN 7, saat ini di Kalpataru dan akan rutin di sini. Kedepannya kita mulai ke SLB dan TK serta merambah ke pesisir pantai," paparnya.

Selain itu juga, menerangkan ada empat langkah yang diajarkan kepada anak-anak dan orang tua di lokasi tersebut. Pertama, harus tetap tenang dan tidak panik ketika terjadi gempa bumi. Jika berada di dalam rumah atau sedang berada di sekolah bisa berlindung di bawah meja dan lindungi kepala dengan tas atau tangan. "Usahakan untuk tidak berada dekat dengan lemari atau barang pecah belah dan segera keluar dari rumah begitu getaran gempa selesai," paparnya, Jumat, 18 Oktober 2019.

Kedua, jika berada dalam gedung tinggi, usahakan segera keluar dari gedung. Sebaiknya gunakan tangga darurat dan jangan gunakan lift. 

Buat para orangtua diusahakan mengetahui tempat evakuasi dan tangga darurat sebelumnya agar ketika terjadi gempa bumi bisa langsung tahu tempat untuk menyelamatkan diri. "Ketiga, kalau berada di luar ketika terjadi gempa, waspadai bangunan dan pohon tinggi dan jurang. Usahakan untuk bisa berada di alam terbuka dan tanah lapang," paparnya.

Keempat, kalau getaran gempa bumi sudah selesai, tetap waspada terhadap gempa susulan sehingga mematikan kompor dan jika tercium bau gas segera tutup dan cabut katup penghubung tabung gas. "Jika ada kemungkinan kerusakan listrik yang timbul akibat gempa bumi segera matikan sumber listrik di rumah agar tidak terjadi korsleting listrik yang berdampak kebakaran," tandasnya.

Ia menambahkan untuk saat ini latihan dan simulasi bencana gempa yang baru disosialisasikan. Selanjutnya, akan diajarkan tindakan awal terjadinya tsunami, kebakaran dan kebanjiran. "Ya simulasi yang diajarkan sementara masih gempa, karena tsunami juga berawal dari gempa. Kedepan menyusul kebakaran, ini akan diajarkan kepada anak yang lebih dewasa dan orang tua," tandasnya. 

Deta Citrawan



Berita Terkait



Komentar