#dbd#penyakit#sigap

Sigap Tanggulangi Penyakit DBD

( kata)
Sigap Tanggulangi Penyakit DBD
Talk show kesehatan di Sai Radio Lampung Post, Jumat (8/3/2019). (Lampost.co/ Triyadi)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia mempunyai dua musim yakni musim panas dan musim penghujan. Namun peralihan musim tersebut harus diwaspadai karena akan ada saja penyakit yang muncul salah satunya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Maka dari itu masyarakat harus sigap menanggulangi penyakit DBD. 
 
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Bandar Lampung Bidang Organisasi, dr. Intan Kusuma Dewi mengatakan penyakit DBD disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti yang hidup di dalam lingkungan bersih dan di air bersih seperti di bak mandi, genangan air kulkas, serta genangan air dispenser. 
 
"Nyamuk ini hidup di air bersih dan tidak hidup di air kotor atau air yang bersentuhan dengan tanah langsung dalam bertelur dan berkembang biaknya. Kemudian hidupnya juga di pakaian yang digantung sebagai tempat tinggalnya," katanya dalam talk show kesehatan di Sai Radio Lampung Post, Jumat (8/3/2019). 
 
Kemudian ia mengatakan di musim hujan banyak genangan air banyak potensi penyakit DBD muncul. Ia mengatakan DBD seperti fenomena gunung es, pada tahun 2018 di daerah Kampung Sawah Tanjung Karang Timur ada 20 kasus DBD. Di tahun 2019 baru tiga bulan sudah ada 10 kasus DBD yang terdata oleh pihaknya. 
 
"Dibeberapa daerah kasus DBD mengalami kenaikan," kata Kepala Puskesmas Kampung Sawah, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung ini. 
 
Intan juga mengatakan penyakit DBD bisa menyerang siapa saja berapapun usianya, mulai dari balita baru lahir sampai orang tua. Ia juga mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan penyakit DBD, seperti faktor lingkungan yang malas bersih-bersih, daya tahan tubuh rendah dan faktor dari si nyamuknya yang menularkan virus. "DBD ditularkan oleh gigitan nyamuk yang mentransferkan virus kepada manusia," katanya. 
 
Kemudian ia mengatakan gejala penyakit DBD yang bisa dirasakan seperti demam tinggi yang diberi obat kemudian turun demamnya kemudian naik lagi demamnya seperti tapal kuda. Ia mengatakan demam pada hari keempat dan kelima akan turun demamnya namun memasuki fase kritis dari penyakit DBD itu sendiri. Pada saat pasien memeriksakan kondisi tubuhnya, selain demam biasanya disertai dengan keluhan batuk, pilek, lemas, mual dan muntah. 
 
"Di fase hari keempat dan kelima dikira sudah sembuh padahal itu fase kritisnya. Maka dari itu harus waspada difase kritis tersebut," katanya. 
 
Ia mengatakan ada empat tahapan derajat penyakit DBD yakni pertama, demam disertai dengan perdarahan atau bercak darah karena virusnya membuat rapuh pembulu darah. Kedua, biasanya ada pendarahan spontan seperti mimisan, gusi berdarah, dan muntah darah. Ketiga, pada saat kondisi kesadaran mulai menurun. Keempat ketika si pasien tidak sadar kondisinya seperti tensi darah sudah drop, nadi sudah tidak teraba yang dinamakan dengue shock syndrom. 
 
"Makanya apabila ada yang deman, pada hari kedua sebaiknya sudah ada pemeriksaan kedokter," katanya. 
 

Triyadi Isworo

Berita Terkait

Komentar