#beritalampung#beritabandarlampung#hukum

Sidang Kasus Bisnis Beras Iwan Palera, Korban: Rumah Saya Disita Petani!

( kata)
Sidang Kasus Bisnis Beras Iwan Palera, Korban: Rumah Saya Disita Petani!
Sofa Mayasari (28) warga Tulangbawang (kanan) memberikan keterangan usai persidangan. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co): Sidang kasus penipuan jual beli beras dengan terdakwa Iwan Palera (55) warga Tanjungakrang Timur, digelar di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Rabu, 21 September 2022.

Agenda sidang tersebut menghadirkan beberapa saksi, salah satunya korban yakni Sofa Mayasari (28) warga Tulangbawang.

Sofa mengaku memberikan beras sebanyak 160 ton untuk terdakwa sekitar April hingga Juli 2021 yang akan digunakan untuk bantuan dari pihak Kemensos. Sofa pun mendapat beras tersebut dari pengepul bernama Ngadimin. Sedangkan Ngadimin mendapatkan beras tersebut dari enam orang petani dari Kabupaten Mesuji dan Pringsewu.

"Total beras itu Rp1,4 miliar," ujar Sofa di persidangan.

Baca juga: KPPU segera Gelar Perkara Kasus Minyak Goreng

Nahas, uang pembelian beras tersebut tak kunjung diberikan oleh terdakwa, hingga Sofa dan Ngadimin diminta untuk melunasi beras yang telah dibeli dari petani.

Lanjut Sofa, beras dikirimkan ke gudang di Bandar Lampung berdasarkan arahan dari terdakwa sebanyak 9 kali. Terdakwa pun baru memberikan uang Rp120 juta sebagai uang muka pembayaran beras.

"Saya kan diminta Pak Ngadimin, karena dia diminta petani. Tapi Iwan ini saya samperin enggak pernah ada. Saya telepon enggak pernah direspon. Puncaknya sekarang sertifikat rumah saya ditahan sama petani, karena saya enggak bisa bayar," ujarnya.

Iwan pun pernah berdalih akan melunasi utang tersebut dengan cara memberikan enam buah sertifikat tanah di Way Kanan yang diklaim nilainya mencapai Rp2 miliar sebagai bentuk jaminan. Ternyata tanah itu bermasalah dan bersengketa dengan pihak lain.

Lantas Iwan pun juga memberikan angin surga terhadap korban yakni dengan cara menyerahkan tujuh lembar cek untuk dicairkan ke bank. Saat Sofa hendak mencairkan cek tersebut ke bank, namun dilarang oleh terdakwa Iwan yang berdalih cek tersebut harus dibiarkan selama 28 hari agar uang tunai bisa dicairkan. Selain itu, Iwan juga berdalih masih menunggu pembayaran beras dari pihak Kemensos.

"Jadi karena selalu enggak boleh, saya coba cek ke bank. Ternyata enggak bisa itu cek kosong keluaran tahuh 2012. Saya ini stres, dari anak saya 4 bulan di kandungan sampai sekarang sudah lahir. Iwan ini selalu susah ditemuin, sampai ujungnya rumah saya tergadai. Saya maunya coba dibayarkanlah Rp400 juta, buat tebus sertifikat rumah saya," katanya.

Sofa mengaku berbisnis hanya mengambil untung kecil. Sofa percaya dengan Iwan, karena Iwan mengaku sebagai keponakan pejabat di Lampung.

"Saya yakin dia bilang tenang aja, karena saya jaga nama baik keluarga. Ya saya percaya," katanya di persidangan sambil menangis.

Sementara Iwan Palera, tak berbicara banyak di persidangan. Ia hanya membantah pernah menyebut secara langsung di depan korban sebagai orang dekat pejabat.

"Saya juga kan niatnya mau bayar saya kasih sertifikat, saya kasih cek. Tapi kan lagi proses, tapi saya malah terkurung," katanya.

Usai persidangan, Iwan Palera pun enggan memberikan komentar ke awak media.

Sementara itu, Maya Sofa, Jepri Manalu beharap ada itikad baik dari pihak terdakwa atau keluarganya agar utang tersebut bisa dilunasi. Karena, selain sertifikat tanah milik korban disita, petani yang menjual beras juga merupakan warga yang sedang kesusahan.

Dalam persidangan, Ketua Majelis Hakim Dedi Wijaya menyarankan agar terdakwa membayar beras para korban dan ada perdamaian sehingga bisa meringankan putusan terhadap terdakwa nantinya.

"Dia ini kan juga DPO paska dilaporkan ke Polda dan menghilang. Kami harap ada itikad baik dari keluarganya. Dia (korban) ini ke PN ke Polda diperiksa ngumpulin uang, minjem buat naik travel ke Bandar Lampung, kasihan korban dan petani lainnya," katanya.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar