#kecelakaan#nyawa#tajuk

Setor Nyawa di Jalan

( kata)
Setor Nyawa di Jalan
dok Lampost.co

KECELAKAAN lalu lintas masih menjadi momok menakutkan di jalan raya. Indonesia saat ini tercatat sebagai negara peringkat kelima penyumbang kematian terbesar akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Fenomena itu tentu bukan prestasi yang harus dibanggakan, melainkan persoalan besar yang harus dituntaskan. Terlebih lagi sebagian besar korban lakalantas di Tanah Air, 57% menimpa kalangan usia produktif yakni 15—37 tahun.

Tahun lalu secara nasional kepolisian mencatat 171.436 orang menjadi korban lakalantas. Dari jumlah tersebut, 29.083 orang tewas akibat lakalantas, sedangkan yang mengalami luka berat 13.256 orang, dan luka ringan 129.095 orang.

Di Lampung, lakalantas pun masih menjadi mesin pembunuh efektif. Sebanyak 4.003 orang menjadi korban lakalantas dengan perincian 814 jiwa meninggal dunia, 1.220 orang luka berat, dan 1.969 orang luka ringan.

Kasus teranyar adalah tragedi kecelakaan maut di Kabupaten Way Kanan pada Senin, 16 September 2019. Lakalantas yang melibatkan satu unit bus angkutan umum dan truk tangki terjadi di Jalan Lintas Tengah, Way Tuba, Way Kanan.

Akibat kecelakaan maut Bus Rosalia Indah dengan truk tangki CPO itu, 8 orang meninggal dunia, 22 orang luka ringan, dan 8 orang luka berat. Tragedi ini menambah daftar jumlah korban kecelakaan di Lampung.

Lakalantas di Way Tuba patut menjadi perhatian kita bersama. Korban yang tidak sedikit patut menjadi dasar bagi pihak terkait untuk menfanalisis serta mengkaji lebih intensif mengenai sebab-musabab terjadinya kecelakaan.

Baik unsur kepolisian maupun instansi terkait lainnya patut berupaya mengantisipasi musibah serupa terjadi di teman yang sama. Selain kelalaian manusia, kondisi jalan yang berliku dan blankspot juga bisa menjadi penyebab kecelakaan.

Kelalaian sopir bus yang kerap mengemudi ugal-ugalan dapat ditekan apabila aparat rutin melakukan patroli di daerah-daerah rawan. Selain itu pemasangan rambu-rambu lalu lintas memadai juga dapat mengurangi lakalantas di jalan raya.

Tragedi jalan raya di Way Tuba patut menjadi pelajaran amat berharga bagi kita semua. Jika kita abai, bahkan lalai dalam berkendara di jalan raya, itu sama saja kita bermain-main dengan maut, siap setor nyawa di jalan raya.

Pemerintah daerah pun mesti memastikan seluruh kondisi jalan lintas benar-benar dalam kondisi prima sehingga tidak menjadi biang lakalantas. Harus jujur kita akui, penyebab lain lakalantas adalah buruknya kondisi jalan raya.

Semua pihak perlu menjalankan Inpres No 4/2013 tentang Program Aksi Dekade Keselamatan Jalan sebenar-benarnya. Dengan begitu, praktik setor nyawa di jalan benar-benar dapat diredam dengan perilaku berkendara berkeselamatan.

Tim Redaksi Lampung Post



Berita Terkait



Komentar