#Perang#Suriah

Serangan Udara AS di Suriah Tewaskan 22 Orang

( kata)
Serangan Udara AS di Suriah Tewaskan 22 Orang
Pesawat jet tempur F-22 Raptor milik Angkatan Udara AS. (AFP)


Damaskus (Lampost.co) -- Serangan udara Amerika Serikat di Suriah menewaskan setidaknya 22 orang pada Jumat, 26 Februari. Ini merupakan aksi militer pertama pemerintahan Presiden Joe Biden di Suriah.

Grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengonfirmasi bahwa 22 milisi yang didukung Iran tewas dalam serangan udara yang terjadi pada pukul 01.00 dini hari waktu setempat.

Dilansir dari laman Independent pada Sabtu, 27 Februari 2021, SOHR menyebut serangan udara mengenai tiga truk pengangkut senjata yang melintasi titik perbatasan dari Irak ke Suriah. Menurut SOHR, jumlah korban tewas bisa saja bertambah.

Rusia, negara sekutu Suriah, mengaku hanya mendapat peringatan dari AS sekitar empat hingga lima menit sebelum dilakukannya serangan udara. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai peringatan tersebut disampaikan terlalu mepet.

"Militer kami mendapat peringatan sekitar empat atau lima menit sebelumnya. Tentu saja ini tidak ada gunanya jika dilihat dari sudut pandang menurunkan ketegangan, dalam kaitannya dengan hubungan antara prajurit Rusia dan AS," kata Lavrov dalam sebuah konferensi pers di Moskow.

Moskow merupakan pemain utama dalam konflik Suriah sejak Presiden Vladimir Putin mengerahkan pasukan ke negara tersebut pada 2015. Pengerahan pasukan bertujuan untuk membantu sekutu lama Rusia, Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Selama ini Rusia mengklaim sebagai satu-satunya aktor asing yang berada di Suriah secara legal. Rusia mengaku hanya mendukung pemerintahan sah di Suriah, yakni yang dipimpin oleh Assad.

Juru bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) John Kirby mengatakan bahwa serangan udara di Suriah mengenai beberapa fasilitas yang digunakan milisi Irak yang didukung Iran, termasuk Kataib Hezbollah dan Kataib Sayyid al-Shuhada. Serangan udara disebut Pentagon dilakukan di perbatasan timur Suriah.

"Serangan dilakukan sebagai respons terhadap serangan terhadap personel AS dan koalisi di Irak," kata Kirby.

Terakhir kalinya AS menyerang perbatasan Suriah terjadi di akhir 2019, saat Pentagon menggempur dua lokasi Kataib Hezbollah.

Winarko







Berita Terkait



Komentar