#Internasional#krisis-suriah#turki

Serangan Drone Turki Tewaskan 19 Prajurit Suriah

( kata)
Serangan Drone Turki Tewaskan 19 Prajurit Suriah
Asap dari sebuah serangan terlihat di Jabal al-Zawiya di provinsi Idlib, Suriah, 23 Februari 2020. (Foto: AFP/OMAR HAJ KADOUR)

Idlib (Lampost.co) -- Serangan pesawat tanpa awak (drone) milik Turki di provinsi Idlib telah menewaskan 19 prajurit Suriah, Minggu 1 Maret 2020. Serangan ini menandai peningkatan ketegangan antara Ankara dan Damaskus.

Menurut keterangan situs pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), 19 tentara tersebut tewas dalam serangan drone terhadap konvoi militer di Jabal al-Zawiya dan di pangkalan militer dekat kota Maaret al-Numan.

Laporan terbaru muncul beberapa jam usai Turki menembak jatuh dua pesawat perang Suriah. Ankara telah mengonfirmasi adanya operasi militer berskala penuh terhadap Suriah, usai 34 prajurit Turki tewas dalam serangan udara pekan kemarin. Turki menuduh Suriah berada di balik serangan udara tersebut.

Meski telah menyerang pesawat dan prajurit Suriah, Turki berkukuh tidak mau bentrok dengan Rusia, sekutu dekat Damaskus.

"Sebuah sistem anti-pesawat yang telah menembak salah satu drone kami dan dua sistem lainnya telah dihancurkan. Dua jet SU-24 milik Suriah yang telah menyerang pesawat Turki juga sudah ditembak jatuh," ucap Kementerian Pertahanan Turki, dikutip dari AFP.

Media nasional Suriah melaporkan bahwa pasukan Turki telah "membidik" dua pesawat pemerintah di atas langit Idlib. SOHR mengonfirmasi bahwa kedua pesawat tersebut telah ditembak jatuh.

Situasi di Idlib memburuk sejak Desember 2019, yakni saat pasukan Suriah yang didukung Rusia berusaha keras merebut kembali provinsi tersebut dari pemberontak dan grup ekstremis.

Konfrontasi antara Suriah dan Turki, negara yang mendukung pemberontak di Idlib, memicu kekhawatiran mengenai potensi krisis keimigrasian seperti yang pernah terjadi di Eropa pada 2015.

Jumlah imigran dari Suriah telah melonjak tajam usai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka pintu perbatasannya menuju Eropa. Erdogan mengaku sudah tidak bisa lagi menampung imigran Suriah, sehingga membiarkan mereka semua bergerak menuju Eropa.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar