#kesehatan#covid-19#kisah-perawat-terinfeksi

Sepenggal Kisah Perawat yang Terinfeksi Covid-19

( kata)
Sepenggal Kisah Perawat yang Terinfeksi Covid-19
Ilustrasi Medcom.id

Jakarta (Lampost.co) -- Kisah mengharukan datang dari Indianapolis, Indiana, Amerika Serikat. Seorang perawat harus menerima kenyataan terinfeksi virus korona. Dia harus menerima kenyataan terinfeksi covid-19 kendati mengandung anak kembar.

Perawat berusia 26 tahun itu diprediksi kelahiran bayi kali ini kira-kita jatuh pada 10 Juni 2020. "Tetapi pada 22 Maret, saya dinyatakan positif virus korona baru dan sekarang semuanya telah berubah. Saya tidak tahu apakah bayi saya akan lahir sehat, dan saya benar-benar takut," ujar Jasmine Jones dikutip dari Womens Health Mag.

Ia mengatakan, covid-19 benar-benar telah memengaruhi setiap aspek kehidupan. Baik pada fisik, mental, dan finansial. Ia pun sangat terpukul dan berharap dengan membagikan kisahnya, orang lain akan menganggap virus ini lebih serius.

Awalnya Tidak Ada Gejala Covid-19

"Ini mungkin terdengar naif, tetapi sebelum saya dites positif, saya sebenarnya tidak khawatir covid-19 akan menghampiri saya. Sebagai seorang perawat medis bedah di sebuah rumah sakit besar di Indianapolis, saya telah menangani beberapa pasien yang sakit parah sebelumnya," tuturnya. 

Ia pun tidak pernah mengalami gejala sakit seperti yang dialami dari virus korona baru. Pada hari-hari sebelum dites positif, semuanya terlihat cukup normal bahkan ia masih menjalankan kerja shift 12 jam dan tidak merawat pasien covid-19.

Menengok ke belakang, pasti ada kemungkinan seseorang bisa tanpa gejala, tetapi karena virus ini belum benar-benar menyebar di Indiana, ia tidak terlalu khawatir. Rumah sakit tempatnya bekerja bahkan tidak memiliki banyak perlindungan atau protokol bagi perawat dalam hal menangani pasien covid-19. 

"Kami memiliki sarung tangan dan masker N95 yang sedang dijatah. Tetapi pada saat itu, saya tidak berpikir ada orang yang terpapar virus korona baru dan bisa menularkan," akunya.

Pada 18 Maret, saat sedang bekerja di rumah sakit, ia masih merasa sangat normal di pagi harinya. Tetapi pada pukul 14.00, ia mengalami demam 100 derajat, menggigil, dan sakit tubuh. Gejala kehamilan yang khas pun dialaminya, dengan kaki sakit dan tidak tahan berdiri untuk waktu yang lama.

Maka demikian, awalnya ia hanya berpikir bahwa dirinya sedang terkena flu. Jasmine pun memberi tahu manajer di rumah sakit tentang bagaimana perasaannya dan mengakhiri shift lebih awal.

Seiring berjalannya waktu, gejala yang dialami menjadi lebih buruk. Nafsu makannya hilang, penciuman dan kepekaan terhadap rasa pun ikut hilang. Meskipun begitu, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa itu hanya flu. Ia tidak ingin percaya ada kemungkinan terkena covid-19.

Kondisi Semakin Memburuk

Jasmine pun tinggal di rumah selama dua hari dan pada hari Jumat, 20 Maret, kondisinya seperti sekarat. Demam mendekati angka 102 derajat, tidak bisa makan apa pun, sakit kepala yang menyiksa, dan sakit di tubuh semakin parah.

"Saya menggunakan tylenol, tetapi itu tidak banyak membantu. Saya mulai merasakan sensasi terbakar di perut saya juga, dan saya mengalami banyak refluks. Pada titik ini, suami saya mulai mengalami sesak napas dan sakit tubuh," jelasnya. 

Selain itu, anaknya yang berumur 11 bulan mengalami demam 103 derajat. Bahkan Jasmine harus merelakan anaknya dirawat orang tuanya.

Ketika gejala terus memburuk, ia memutuskan sudah waktunya untuk pergi ke UGD rumah sakit. Ada dua orang di meja depan yang memeriksa pasien.

Ketika ia memberi tahu mereka tentang gejala yang dirasakan, ia segera dibawa ke belakang sementara ibunya diminta menunggu di mobil saja.

Mereka tidak membiarkan siapa pun duduk di ruang tunggu dalam upaya untuk meminimalkan kemungkinan penyebaran virus. Setelah saya dibawa ke UGD, ia diperiksa dan dinyatakan bahwa tekanan darahnya sangat tinggi dan sangat dehidrasi.

"Mereka memberi saya cairan melalui infus dan minum dengan kalium di dalamnya untuk membantu tekanan dan dehidrasi. Mereka juga melakukan swab test untuk menguji flu dan covid-19 yang benar-benar melukai tenggorokan saya," paparnya.

Tidak Ditangani Lebih Lanjut, Perawatan Mandiri di Rumah

Dua jam kemudian, mereka kembali dan mengatakan bahwa tes flu hasilnya negatif. Suasana di ruangan itu berubah secara dramatis. Dokter mengatakan kepadanya bahwa dia dicurigai menderita covid-19 dan staf perawat bergegas membawanya keluar dari sana.

Bahkan, ia tidak sempat menghabiskan cairan infus yang diberikan saat itu. Sebagai gantinya, mereka memberikan surat-surat keluar dari perawatan rumah sakit, mengirimnya keluar melalui pintu samping dan memberi tahu bahwa Jasmine harus menunggu ditelepon sekitar 48 jam.

"Saya tidak benar-benar diberi instruksi tentang cara merawat diri sendiri begitu saya tiba di rumah karena mereka tidak bisa memastikan apakah saya memiliki virus itu atau belum. Satu-satunya diagnosis yang tercantum pada surat-surat keluar saya adalah tekanan darah tinggi. Itu gila," ucapnya.

Pada 22 Maret, seorang perawat dari rumah sakit menelepon di pagi hari. Jasmine pun menerima hasil tesnya dan dinyatakan positif covid-19. Ia diberi tahu bahwa dokter kandungan akan menghubunginya mengenai kondisi kandungan bayi kembarnya.

"Dia juga mengatakan bahwa jika saya mengalami masalah pernapasan, saya harus kembali. Tetapi sebaliknya, karena tidak ada perawatan, saya diperintahkan untuk tinggal di rumah selama 14 hari dan beristirahat. Itu adalah akhir dari percakapan," ungkapnya.

Setelah Jasmine menutup telepon dari rumah sakit itu, ia pun menangis memikirkan kenapa dia bisa tertular virus mematikan. Semakin menyesal memikirikan kemungkinan telah menginfeksi seluruh keluarganya. 

"Apa yang harus saya lakukan? Tentu saja, saya juga khawatir tentang si kembar. Saya tidak tahu bagaimana semua ini akan memengaruhi mereka. Saya langsung merasa stres dan cemas," pungkasnya.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar