#Mimbar#euro2020

Sepak Bola dan Drama Korea

( kata)
Sepak Bola dan Drama Korea
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


SAYA ingin membicarakan sepak bola. Kebetulan mulai hari ini bergulir salah satu kompetisi sepak bola terakbar sejagat: Euro 2020. Edisi ke-16 Piala Eropa yang dihelat di 11 kota di berbagai negara di Benua Biru itu sejenak bakal menjadi relaksasi atau teman mengurangi mobilitas di saat pandemi bagi banyak orang.

Saya ingin menyoroti sepak bola secara umum, yang sudah kian senapas dengan Hollywood, Bollywood, juga drakor (drama Korea). Di dalamnya banyak melodrama, tapi itu jadi penyedap penting bagi industri. Pasang surut hubungan antarpemain, saga transfer pemain dan pelatih, hingga banyak-banyakan pengikut di media sosial sudah jadi menu tetap saban musim.

Simak bagaimana urusan hubungan yang kurang mesra antara Lionel Messi dan Antoine Griezmann di Barcelona yang terus-menerus dispekulasikan. Padahal, keduanya sudah membantah beragam spekulasi itu. "Kami bersahabat," kata Messi. "Jika Anda memberi Lionel Messi melon, dia akan mengubahnya menjadi kaviar," timpal Griezmann dalam kesempatan terpisah.

Namun, begitulah industri. Ia akan menjaga ritme agar roda bisnis terus berputar. Jangan sampai seret, apalagi macet. Industri, khususnya sepak bola, memang membutuhkan kekayaan imajinasi, kelimpahan inovasi. Sama seperti pola bermain di lapangan.

Apa boleh buat, sepak bola bukan lagi sekadar hobi, melainkan juga sudah beberapa dekade menjadi industri serius. Kontribusi sepak bola terhadap perkembangan ekonomi sebuah kawasan, bahkan negara, tidak bisa dibilang main-main, remah-remah, cetek, tak bernilai. Tidak sama sekali.

Pricewaterhouse Cooper (PwC), sebuah lembaga konsultan bisnis internasional, misalnya, pernah melakukan riset tentang kontribusi La Liga musim 2016/2017 terhadap perekonomian Spanyol. Berdasarkan riset tersebut, PwC menemukan La Liga telah menyumbang 15,69 miliar euro atau sekitar Rp274 triliun kepada produk domestik bruto (PDB) Spanyol untuk perhelatan satu musim tersebut. Angka itu setara dengan 1,37% dari total PDB Spanyol di 2017.

Lebih lanjut, La Liga pada musim 2016/2017, tulis PwC dalam hasil risetnya, juga telah menciptakan 184.626 lapangan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung. Jumlah tersebut setara dengan 0,98% dari total tenaga kerja di Spanyol. Gelaran La Liga di Spanyol pada musim 2016/2017 juga memberikan sumbangan penerimaan kas negara sebesar 4,09 miliar euro atau sekitar Rp71,5 triliun.

Riset yang dilakukan PwC tersebut memberikan sinyal bahwa sepak bola sebagai sebuah industri mampu memberikan kontribusi yang tidak dapat dipandang sebelah mata terhadap perekonomian negara. Angka kontribusi La Liga musim 2016/2017 terhadap PDB Spanyol itu, misalnya, bila dibandingkan dengan ekonomi di Tanah Air bahkan nyaris separuh kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia 2017. Nilai tersebut juga satu setengah kali lipat kontribusi industri kreatif (k-pop dan k-drama) terhadap PDB Korea Selatan.

Namun, sama seperti drakor, menjadikan industri sepak bola sebagai magnet bagi pengungkit ekonomi suatu wilayah juga ada syarat dan ketentuan berlakunya. Industri sepak bola mesti dikelola secara profesional, menarik, inovatif, juga kaya gimik. Saya jadi mafhum, ini pula ikhtiar yang tengah ditempuh Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menjadikan Persis Solo salah satu magnet ekonomi. Salah satunya ialah menggandeng nama-nama penting dalam sepak bola semacam Erick Thohir.

Sebab, tanpa sentuhan kecerdasan, 'keliaran imajinasi' dan profesionalisme bisnis, sepak bola sekadar sebagai ajang pemerasan keringat. Penelitian yang dilakukan R Aza dan kawan-kawan (2007) menunjukkan itu. Mereka pernah meneliti dampak ekonomi dari klub sepak bola Real Oviedo dan Real Sporting Gijon terhadap perekonomian regional Asturias, Spanyol, pada 1995 dan 2000.

Indikator yang digunakan untuk menganalisis total dampak ekonomi dari aktivitas kedua klub tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu secara langsung, tidak langsung, serta yang diinduksi dari aktivitas klub. Dampak aktivitas turisme yang dilatarbelakangi kunjungan fan dalam laga tandang juga dianalisis.

Hasilnya, ditemukan bahwa aktivitas kedua klub hanya memberikan sumbangan yang kecil terhadap kondisi perekonomian regional Asturias. Tercatat pada 1995 dan 2000, aktivitas Real Oviedo dan Real Sporting Gijon hanya menciptakan 426 dan 446 lapangan pekerjaan atau sekitar 0,12% dari total tenaga kerja di wilayah Asturias serta memberikan 24.846 euro dan 31.075 euro (0,26% dan 0,29%) kepada produk domestik regional bruto Asturias.

Hasil penelitian juga menyatakan dampak ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas klub dan turisme fan berkembang dalam skema yang berbeda-beda. Pada hal ini, kejayaan klub dan level kompetisi, klub tersebut bersaing ikut menjadi penentu besarnya dampak ekonomi yang dapat diberikan kepada wilayah bermarkasnya suatu klub. Kontribusi ekonomi dari aktivitas turisme fan cenderung menurun seiring dengan menurunnya daya tarik dari klub.

Seperti kata Antoine Griezmann, sepak bola butuh imajinasi kuat untuk 'menyulap' melon menjadi kaviar. Di Indonesia, kesempatan itu sangat terbuka. Apalagi, sejatinya Indonesia memiliki sejarah lama di Asia dalam hal kompetisi. Ajang kompetisi semi profesional bertajuk Galatama sudah dihelat sejak 1979, mendahului J-Leage, Jepang. Sayangnya, 'melon' itu tak kunjung menjadi kaviar, alih-alih tinggal kulitnya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar