#kesenian#budaya#humaniora#beritalampura

Seni Kerawitan Diambang Kepunahan

( kata)
Seni Kerawitan Diambang Kepunahan
Anggota sanggar kerawitan dan seni, di Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, berlatih memainkan alat musik di teras kediaman ketua sanggar. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto

KOTABUMI (Lampost.co) -- Alunan suara alat musik gamelan terdengar rancak di pelataran rumah ketua Sanggar Kerawitan Desa Ratu Abung. Alat musik itu menjadi saksi sejarah perjalanan warga desa setempat dan desa tetangganya di bumi Lampung Utara.  

Seiring perjalanan waktu, seni musik kerawitan tersebut mulai hilang dengan semakin sedikitnya generasi muda yang mau belajar memainkan alat musik tradisional.

Ketua Sanggar Kerawitan dan Seni, Mardi Wiromo, Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Liono, dikediamannya, Minggu, 13 Oktober 2019 malam mengatakan disanggarnya tercatat ada 35 anggota sanggar. Anggota termuda dalam kelompok kerawitan yang dia pimpin kini berumur 47 tahun. 

"Anggota termuda kelompok sanggar kerawitan dan seni, yakni saya sendiri dan memang anggota sanggar ini semua telah sepuh," ujarnya. 

Mardi yang rutin setiap minggunya menggelar latihan dikediamannya sejak 2010 lalu, pernah mengalami kejayaan di era 90-an. Namun, seiring perjalanan waktu, anggota yang terhimpun dalam sanggar tersebut semakin berkurang, dengan berbagai alasan dan yang paling klasik adalah masalah finansial.

"Sanggar kerawitan di Lampung Utara pernah mengalami kejayaan di era 90-an. Seiring perjalanan waktu tawaran pentas sanggar kerawitan semakin berkurang, kalah dengan musik organ tunggal. Alasan inilah yang mungkin menyebabkan anggota sanggar secara berangsur-angsur mundur dan tersisa anggota yang ingin musik ini tetap lestari," kata dia. 

Selain itu, seni musik kerawitan ini juga kurang diminati generasi muda, khususnya yang ada di Desa Ratu Abung dan sekitarnya. "Padahal, saya selalu membuka kesempatan bagi mereka untuk belajar musik kerawitan di tempat ini. Saya selalu membuka diri pada generasi muda belajar musik tradisional kerawitan. Hanya saja, banyak yang enggan dengan berbagai alasan dan lebih memilih belajar musik yang di nilai lebih modern, seperti gitar, bass, keyboard dan lainnya," tuturnya.

Dia berharap, musik tradisional kerawitan tetap lestari karena ini adalah warisan budaya leluhur.

Yudhi Hardiyanto

Berita Terkait

Komentar