#Semeru

Semeru, Gie, dan Mona

( kata)
Semeru, Gie, dan Mona
Gunung Semeru. MI/Ant//Siswowidodo


Wandi Barboy

Wartawan Lampung Post

MAAF catatan ini terasa gado-gado. Campur baur menjadi satu. Sebabnya saya terkenang seorang sosok panutan pada masanya. Bahkan, hingga masa kini, saat membaca berita erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (16/1).

Gunung berapi ini mengeluarkan awan panas dengan sebaran sejauh 4,5 kilometer. Aktivitas vulkanis ini berkorelasi dengan kejadian sebelumnya, pada 1 Desember 2020. Statusnya kini sudah waspada dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merekomendasikan sejumlah hal agar masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Gunung Semeru tetap waspada dari segala mara bahaya yang mengancam.

Ketika mengunggah cerita tentang Gunung Semeru pada laman lampungpost.id yang berlangganan itu, saya teringat dengan Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa pada 1966 yang juga pencinta alam dan meninggal di Gunung Semeru pada Desember 1969 akibat menghirup asap beracun. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

Ben Anderson, sahabat Soe Hok Gie, punya ungkapan yang menghunjam tepat ke sasaran mengenai sosok Soe Hok Gie. Ia mengungkapkan Gie adalah sosok seorang intelektual yang bebas, yang artinya adalah seorang pejuang yang sendirian.

Selalu. Mula-mula, kata Ben, Gie membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup. Ihwal itu dilakukan untuk menegakkan kekuasaan yang lebih bersih. Namun, sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti Gie akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus menerus. Demikian siklusnya.

Lantas apa kaitannya dengan Mona? Siapakah Mona? Namanya Mona Lohanda. Ia adalah anak didik Soe Hok Gie, sejarawan yang pernah berkhidmat di Arsip Nasional RI. Arsiparis senior itu wafat pada usia 73 tahun di rumah sakit di Tangerang, Sabtu (16/1). Mona selalu menekankan pentingnya pengarsipan untuk membangun karakter bangsa. Ia juga menjalankan laku asketisme.

Apakah ini suatu kebetulan atau bukan, saya tidak tahu. Namun, itulah faktanya. Fakta itu suci dalam diktum jurnalisme. Bagaimana harus memaknai semua ini?

Di tengah bangsa yang terus didera bencana yang tidak berkesudahan ini, sosok seperti Soe Hok Gie dan Mona Lohanda adalah sosok yang senantiasa menginspirasi dan mencerahkan masyarakat. Kata dan perbuatannya seiring sejalan. Mari tengok bersama adakah tokoh yang seperti Soe Hok Gie dan Mona Lohanda kini di tengah masyarakat Indonesia yang masih terdampak oleh pandemi Covid-19?

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar